Rabu, 17 Maret 2010

TUGAS - 3 ( 2 - EB 10 )

D I K S I


I.        Latar belakang
Bahasa terdiri atas beberapa tataran gramatikal antara lain kata, frase, klausa, dan kalimat. Kata merupakan tataran terendah & kalimat merupakan tataran tertinggi. Ketika Anda menulis, kata merupakan kunci utama m’bentuk tulisan. Oleh karena itu, sejumlah kata dalam BI harus dipahami dengan baik, agar ide dan pesan seseorang dapat dimengerti. Dengan demikian, kata-kata yang digunakan untuk berkomunikasi harus dipahami dalam konteks kalimat, alinea dan wacana. Kata sebagai unsur bahasa, tidak dapat dipergunakan dengan sewenang-wenang. Akan tetapi, kata-kata tersebut harus mengikuti kaidah-kaidah yang benar. Menulis merupakan kegiatan yang mampu menghasilkan ide-ide dalam bentuk tulisan secara terus-menerus & teratur (produktif) serta mampu mengungkapkan gambaran, maksud, gagasan, perasaan (ekspresif). Oleh karena itu, ketrampilan menulis / mengarang membutuhkan grafologi, struktur bahasa, & kosakata. Salah satu unsur penting dalam mengarang adalah penguasaan kosa kata. Kosa kata merupakan bag dari diksi. Ketepatan diksi dalam suatu karangan merupakan hal yang tidak dapat diabaikan karena ketidaktepatan penggunaan diksi pasti akan menimbulkan ketidakjelasan makna.

 II.        Pengertian
Diksi, dalam arti aslinya dan pertama, merujuk pada pemilihan kata dan gaya ekspresi oleh penulis atau pembicara. Dan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, diksi berarti "pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan)”. Dari pernyataan itu tampak bahwa penguasaan kata seseorang akan mempengaruhi kegiatan berbahasanya, termasuk saat yang bersangkutan membuat karangan. Setiap kata memiliki makna tertentu untuk membuat gagasan yang ada dalam benak seseorang. Bahkan makna kata bisa saja “diubah” saat digunakan dalam kalimat yang berbeda. Hal ini mengisyaratkan bahwa makna kata yang sebenarnya akan diketahui saat digunakan dalam kalimat. Lebih dai itu, bisa saja menimbulkan dampak atau reaksi yang berbeda jika digunakan dalam kalimat yang berbeda. Berdasarkan hal itu dapat dikatakan bahwa diksi memegang tema penting sebagai alat untuk mengungkapkan gagasan dengan mengharapkan efekagar sesuai.

Point – point penting tentang diksi, yaitu :
•   Plilihan kata atau diksi mencakup pengertia kata-kata mana yang harus dipakai untuk mencapai suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelompokan kata-kata yang tepat atau menggunakan ungkapan – ungkapan, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi.
•   Pi;ihan kata atau diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa – nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan, dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai (cocok) dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar.
•   Pi;ihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasa sejumlah besar kosa kata atau perbendaharaan kata bahasa itu. Sedangkan yang dimaksud pembendaharaan kata atau kosa kata suatu bahasa adalah keseluruhan kata yang dimiliki suatu bahasa.
(Gorys Keraf :DIKSI DAN GAYA BAHASA (2002), hal. 24)

III.        Hal-hal yang mempengaruhi pilihan kata berdasarkan kemampuan penggunaan bahasa
·         Pemakaian kata mencakup dua masalah pokok, yakni :
1.        Masalah ketepatan memiliki kata untuk mengungkapkan sebuah gagasan atau ide.
Menurut keraf “Ketepatan pilihan kata mempersoalkan kesanggupan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan-gagasan yang tepat pada imajinasi pembaca atau pendengar, seperti apa yang dipikirkan atau dirasakan oleh penulis atau pembaca”. Ketepan makna kata bergantung pada kemampuan penulis mengetahui hubungan antara bentuk bahasa (kata) dengan referennya.
2.        Masalah kesesuaian atau kecocokan dalam mempergunakan kata tersebut.
Masalah pilihan akan menyangkut makna kata dan kosakatanya akan memberi keleluasaan kepada penulis, memilih kata-kata yang dianggap paling tepat mewakili pikirannya.
·         Seandainya kita dapat memilih kata dengan tepat, maka tulisan atau pembicaraan kita akan mudah menimbulkan gagasan yang sama pada imajinasi pembaca atau pendengar, seperti yang dirasakan atau dipikirkan oleh penulis atau pembicara. Mengetahui tepat tidaknya kata-kata yang kita gunakan, bisa dilihat dari reaksi orang yang menerima pesan kita, baik yang disampaikan secara lisan maupun tulisan. Reaksinya bermacam-macam, baik berupa reaksi verbal, maupun reaksi nonverbal seperti mengeluarkan tindakan atau perilaku yang sesuai dengan yang kita ucapkan. Agar dapat memilih kata-kata yang tepat, maka ada beberapa syarat yang harus diperhatikan hal berikut ini :
a.   Kita harus bisa membedakan secara cermat kata-kata denitatif dan konotatif; bersinonim dan hampir bersinonim; kata-kata yang mirip dalam ejaannya, seperti :bawa-bawah, koorperasi-korporasi, interfensi-interferensi, dan

b.   Hindari kata-kata ciptaan sendiri atau mengutip kata-kata orang terkenal yang belum diterima di masyarakat.
c.    Waspadalah dalam menggunaan kata-kata yang berakhiran asing atau bersufiks bahasa asing, seperti :Kultur-kultural, biologi-biologis, idiom-idiomatik, strategi-strategis, dan lain-lain
d.   Kata-kata yang menggunakan kata depan harus digunbakan secara idiomatik, seperti kata ingat harus ingat akan bukan ingat terhadap, membahayakan sesuatu bukan membahayakan bagi, takut akan bukan takut sesuatu.
e.   Kita harus membedakan kata khusus dan kata umum.
f.    Kita harus memperhatikan perubahan makna yang terjadi pada kata-kata yang sudah dikenal.
g.   Kita harus memperhatikan kelangsungan pilihan kata.

IV.      Fungsi Diksi
fungsi diksi ialah sebagai sarana mengaktifkan kegiatan berbahasa (komunikasi) yang dilakukan seseorang untuk menyampaikan maksud serta gagasannya kepada  orang lain. Sedangkan persuasi merupakan salah satu teknik mempengaruhi orang  dengan menggunakan cara tertentu baik  melalui ucapan maupun tulisan agar bersedia melakukan dengan senang hati, yang pada akhirnya dapat mengubah  sikap dan perilaku orang tersebut.    

 V.      Diksi Dalam Kalimat Dan Cerita
Diksi dapat diartikan sebagai pilihan kata pengarang untuk menggambarkan cerita mereka. Dan diksi bukan hanya berarti Pilih-memilih kata. Istilah ini bukan saja digunakan untuk menyatakan gagasan/ menceritakan peristiwa tetapi juga meliputi persoalan gaya bahasa, ungkapan-ungkapan dsb.
Gaya bahasa sebagai bagian dari diksi yang bertalian dengan ungkapan-ungkapan individu atau karakteristik, atau memiliki nilai artistik yang tinggi. Pilihan kata bukanlah masalah sederhana karena menyangkut persoalan yang bersifat dinamis, inovatif, & kreatif sejalan dengan perkembangan masy penunturnya. Penulis yang blm berpengalaman sangat sulit untuk mengungkapkan ide / gagasan & biasanya sangat miskin variasi bahasa.Akan tetapi, ada pula penulis yang sangat boros / tidak efektif menggunakan perbendaharaan kata, sehingga tidak ada isi yang terdapat di balik kata-katanya. Kata-kata atau istilah tidak hanya sekedar mengemban nilai-nilai indah (estetis), melainkan juga nilai-nilai filosofi dan pedagogis karena dapat digunakan penulis untuk menyimpan pesona makna yang terselubung / simbolis, sehingga untuk memahaminya diperlukan interpretasi & renungan-renungan yang dalam.
Sebelum menentukan pilihan kata, penulis harus memperhatikan dua hal pokok, yakni: masalah makna dan relasi makna. Makna sebuah kata / sebuah kalimat merupakan makna yang tidak selalu berdiri sendiri. Adapun makna menurut (Chaer, 1994: 60) terbagi atas beberapa kelompok yaitu :
a. Makna Leksikal dan makna Gramatikal
b. Makna Referensial dan Nonreferensial
c. Makna Denotatif dan Konotatif
d. Makna Konseptual dan Makna Asosiatif
e. Makna Kata dan Makna Istilah
f. Makna Idiomatikal dan Peribahasa
g. Makna Kias dan Lugas

Relasi adalah hubungan makna yang menyangkut hal kesamaan makna (sinonim), kebalikan makna (antonim), kegandaan makna (polisemi dan ambiguitas), ketercakupan makna (hiponimi), kelainan makna (homonimi), kelebihan makna (redundansi) dan sebagainya. Adapun relasi makna terbagi atas beberapa kelompok yaitu :
a. Kesamaan Makna (Sinonim)
b. Kebalikan Makna (Antonim)
c. Kegandaan Makna (Polisemi dan Ambiguitas)
d. Ketercakupan Makna (Hiponimi)
e. Kelebihan Makna (Redundansi)
Agar usaha mendayagunakan teknik penceritaan yang menarik lewat pilihan kata maka diksi yang baik harus …
•   Tepat memilih kata untuk mengungkapkan gagasan / hal yang ‘diamanatkan’
•   Diperlukan kemampuan untuk membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna sesuai dengan gagasan yang ingin disampaikan & kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai dengan situasi & nilai rasa pembacanya.
•   Pilihan kata yang tepat & sesuai hanya mungkin kalau penulis / pengarang menguasai sejumlah kosa kata (perbendaharaan kata) yang dimiliki masyarakat bahasanya, serta mampu menggerakkan & mendayagunakan kekayaannya itu menjadi jaring-jaring kalimat yang jelas & efektif.

VI.        Diksi Dalam Puisi
Setiap penyair untuk mengutarakan apa yang terkandung dalam hatinya selalu terikat kepada kata-kata yang digunakannya. Seorang penyair akan mempunyai gaya yang berbeda dengan penyair lainnya dalam mengungkapkan buah pikiran yang akan dituangkan dalam karyanya. Penyair selalu berhati-hati dengan penggunaan kata-kata, karena pemilihan kata-kata sangat menentukan kepadatan dan kejelasan bahasa dalam karya puisi, dan memberi warna dalam karya puisi tersebut. Hal ini terjadi karena pilihan kata atau diksi selain mengandung arti yang tersirat, dan juga dapat menyentuh atau menggetarkan perasaan si pembaca atau penikmatnya. Penyair sering menggunakan diksi untuk membangkitkan imageri dalam melukiskan sesuatu dalam karya puisinya. Setiap orang tentu ingin menyampaikan perasaan dan pendapatnya dengan sejelas mungkin kepada orang lain. Kadang-kadang dengan kata-kata biasa belum begitu jelas menerangkan atau melukiskan sesuatu, maka dipergunakanlah persamaan, perbandingan serta kata-kata kias lainnya. Begitulah para penyair menggunakan diksi untuk memperjelas maksud serta menjelmakannya dalam karya puisi tersebut sehingga lebih menarik, bahkan dapat menyentuh serta mendebarkan perasaan si pembaca dan peminatnya.
Penyair, terutama yang masih mula-mula menggauli puisi, sering tergoda untuk memilih kata-kata, frasa, atau idiom yang indah-indah sebagaimana sering dijumpai dalam karya-karya sastra klasik, syair-syair lagu, atau kartu-kartu ucapan hari khusus, seolah-olah kata-kata tersebut serta-merta membuat sebuah sajak menjadi "indah". Estetika bahasa seolah diyakini dapat dicapai melalui penggunaan idiom-idiom yang klise tersebut, yang cenderung "berbunga-bunga". Efek estetik seakan menjadi satu-satunya yang penting dalam proses penciptaan puisi, sehingga rekan-rekan penyair yang muda pengalaman sering kali melupakan elemen-elemen lain yang tak kalah pentingnya dalam puisi.
Terlalu terpaku pada polesan kosmetika sering beresiko memudarkan inner beauty, "kecantikan dalam", aura seseorang? Begitu pula puisi, ada "tenaga dalam" yang juga (lebih) perlu mendapatkan perhatian penyair. Diksi, sedikit banyak memegang peranan penting dalam memunculkan kekuatan-kekuatan sebuah karya puisi, baik secara fisik semisal unsur bunyi (musikalitas), keunikan komposisi, maupun secara nonfisik seperti picuan asosiasi makna yang terbangkit dalam benak dan hati pembaca, getar emosi tertentu atau bahkan debar spiritual yang tak terjelaskan yang dirasakan oleh seseorang seusai membaca sebuah karya.
Diksi tentu tak bisa dilepaskan dari kosa kata. Agar seorang penyair mampu mengolah diksi, ia dituntut memiliki perbendaharaan kata yang cukup kaya serta upaya yang tekun dan tak kenal menyerah untuk mencari kemungkinan-kemungkinan bentukan komposisi kata yang unik, segar, dan menyarankan kebaruan pada kadar tertentu. Di dalam puisi setiap kata, frasa atau bahkan larik diupayakan untuk hadir dengan alasan yang lebih kuat dari pada sekedar untuk dekorasi semata. Sedapat mungkin kata-kata yang dipilih itu merangkum sebanyak mungkin tenaga potensial puitik, sehingga pada saatnya mampu memicu syaraf-syaraf puitik pembaca. Kata-kata yang dipilih dalam puisi sebaiknya bernas, telak, sekaligus enak didengar dan membekas dalam benak pembaca. Membekasnya sebuah ucap-ucapan dalam puisi ini bisa jadi dikarenakan idiom tersebut memiliki asosiasi tertentu yang membangkitkan emosi tertentu dalam diri pembaca, mungkin karena mengingatkannya pada pengalaman pribadinya sendiri, atau karena idiom tersebut memiliki keunikan tersendiri baik dalam hal bentuk atau bunyinya, kebaruannya, atau bahkan keusilannya "mengerjai" simpul-simpul syaraf puitik pembaca. Memperkaya diri dengan bacaan-bacaan lintas disiplin, wawasan bahasa lintas budaya, serta pengalaman berbahasa maupun pengalaman batin secara luas baik dari interaksi dengan orang lain, lingkungan maupun dengan diri sendiri adalah beberapa upaya yang dapat disebut guna mengasah kepekaan diktif seorang penyair.
Kekuatan diksi dapat lambat laun dicapai melalui latihan-latihan empirik. Dari situlah mungkin dapat dimengerti mengapa setiap penyair dapat dikenali gaya ucapnya melalui diksi dalam rangkaian karya-karya puisinya. "Dikenali" di sini lebih bersifat intuitif ketimbang fisik karena seorang penyair yang baik akan selalu berusaha terus mencari dan menemukan idiom-idiom yang belum pernah dipakai, paling tidak oleh dirinya sendiri. Ini tentu akan mengurangi kemungkinan ditemukannya pengulangan-pengulangan dalam karyanya, sehingga "pengenalan" kita atas gaya ucap penyair tersebut akan lebih bersifat menduga-duga sembari merasakan efeknya alih-alih menunjuk pola-pola yang kasat mata, meski tak dapat dimungkiri kadang-kadang tanpa disadari (atau justru disengaja?) seorang penyair memang ada memiliki kata-kata atau frasa "favorit" yang cenderung muncul dalam sejumlah karyanya.
Karya puisinya tetap mempunyai tujuan, dan pembacalah yang berusaha untuk menafsirkan isi sesuai dengan pokok persoalan yang dituangkan oleh penyair dalam sanjaknya. Hal ini sesuai dengan pendapat pakar yang menyatakan, “membaca sanjak kita selalu menghadapi keadaan yang paradoksal. Pada suatu pihak sebuah sanjak, atau lebih luas sebuah karya sastra seni umumnya merupakan keseluruhan yang bulat, yang berdiri sendiri, yang otonom, dan yang boleh dan harus kita pakai dan tafsirkan sendiri. (Teeuw, 1980:11). Sesuai dengan judulnya, maka dalam kesempatan ini akan divas mengenai diksi dalam karya puisi. Tujuan dan pengaruhnya bagi pembaca/peminat puisi itu sendiri. Pokok persoalan dalam tulisan ini difokuskan pada pendayagunaan kata yakni ketepatan dan kecocokan untuk mengungkapkan sebuah gagasan, hal ini dapat kita lihat pada sanjak Chairil Anwar yang berjudul, “Cintaku Jauh di Pulau”, Sapardi Djoko Damono dalam sanjaknya yang berjudul, “Saat Sebelum Berangkat”, “Berjalan di Belakang Jenazah”, “Sehabis Mengantar Jenazah”, menggunakan ketepatan dan kecocokan kata-kata untuk membangun sanjaknya. Penulis memilih sanjak ini sebagai contoh pembahasan bukan berarti bahwa sanjak penyair yang lain tidak penting, tetapi karena keterbatasan waktu, tidak memungkinkan untuk membicarakannya/ mengkaji secara keseluruhan dalam waktu yang relatif singkat dalam kesempatan ini. Atas dasar uraian ini maka penulis memperkenalkan diksi dalam beberapa sanjak serta pengaruhnya membangun karya puisi itu sendiri.
VII.        Contah Serta Saran Pemilihan Kata Dalam Kalimat
Dalam dunia Broadcasting: tidak ada seorangpun yang mampu dengan jelas m’dengar sebuah kalimat yang terdiri lebih dari 20 kata
So, naskah siaran & berita yang kita buat harus ringkas & ramping - KISS Keep It Short and Simple.
Sebelum menulis kita memikirkan gagasan / ide secara utuh. Teknisnya, mulailah dengan membuat catatan ide, ketahui & pahami cerita dan peristiwanya, pikirkan, katakan dan tuliskan.
Pa saat memikirkan ide tulisan, kita dapat membayangkan seperti akan bercerita kpd seseorang yang kita kenal yang sedang berada di hadapan kita. Sampaikanlah sesuatu yang akan kita ceritakan, & tuliskan persis seperti kita bercerita.
Yang harus diperhatikan :
Ringkaslah kalimat yang akan disampaikan, jangan boros kata-kata”
•     Bukan: Menteri keuangan menyatakan akibat dari langkah tersebut ialah akan meningkatnya kondisi keuangan sektor swasta & memberikan peningkatan terhadap kepercayaan bisnis & masyarakat secara umum
•     Tetapi: Menteri keuangan mengatakan, langkah-langkah itu akan membantu keuangan sektor swasta
”Hindari pengulangan kata yang tidak perlu”
•     contoh: rencana yang akan datang, alasannya karena, ramai berbondong-bondong, maju ke depan, mundur ke belakang, peristiwa lalu yang telah dilewati dan sebagainya.
”Hindari penggunaan anak kalimat. Bahasa radio adalah bahasa tutur sehari-hari. Dalam berbicara, kita jarang menggunakan anak kalimat. Jika menemukan anak kalimat, pecahlah menjadi beberapa kalimat. Semakin sederhana struktur kalimat, akan semakin baik”.
•     Bukan: Rumania yang gaungnya mulai tenggelam sejak ditinggalkan Gheorge Hagi, siap mengalahkan tim manapun di Euro 2008 ini.
•     Tetapi: Sejak ditinggalkan Gheorge Hagi, gaung Rumania seperti tenggelam. Namun, Rumania tetap bertekad mengalahkan tim manapun di Euro 2008 ini.
“Hindari mendahulukan kata kerja”
•     Bukan: Menuntut presiden SBY membubarkan Ahmadiyah, demonstran dalam gelombang besar berunjuk rasa di depan Istana Negara.
•     Tetapi: Demonstran berunjuk rasa di depan Istana Negara, menuntut pembubaran Ahmadiyah.
“Jangan menempatkan ‘kata kerja penting’ di akhir kal, karena pembaca berita biasanya menurunkan suaranya di akhir kalimat. Jika hal ini terjadi, makna kata kunci tadi akan hilang”.
•     Bukan: Demonstran berunjuk rasa di depan Istana Negara, menuntut Ahmadiyah dibubarkan.
•     Tetapi: Demonstran berunjuk rasa di depan Istana Negara, menuntut pembubaran Ahmadiyah.
DAFTAR PUSTAKA
1. Keraf , Gorys. 2002. Diksi Dan Gaya Bahasa. Ende Flores: Nusa Indah

TUGAS - 2 ( 2 - EB 10 )


a.      Apa yang dimaksud dengan ejaan ?

Ejaan adalah seperangkat aturan tentang keseluruhan cara penulisan bahasa dengan menggunakan huruf, kata dan tanda baca sebagai sarananya.

Ejaan yang digunakan sekarang adalah Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). EYD mulai diberlakukan pada tanggal 16 Agustus 1972. Ejaan ketiga dalam sejarah bahasa Indonesia ini memang merupakan upaya penyempurnaan ejaan sebelumnya yang sudah dipakai selama dua puluh lima tahun yang dikenal dengan Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi (Menteri PP dan K Republik Indonesia pada saat Ejaan itu diresmikan pada tahun 1947).

b.      Apa saja yang menjadi ruang lingkup ejaan ?

Ruang lingkup EYD mencakupi lima aspek, yaitu :

1)       Pemakaian huruf  membicarakan masalah yang mendasar dari suatu bahasa, yaitu :
a)     abjad                                                      
b)     vokal                                                                  
c)      konsonan
d)     pemenggalan
e)     nama diri

2)      Penulisan huruf membicarakan beberapa perubahan huruf dari ejaan sebelumnya yang meliputi :
a)     huruf kapital
b)     huruf miring

3)      Penulisan kata membicarakan bidang morfologi dengan segala bentuk dan jenisnya berupa :
a)     kata dasar                                               
b)     kata turunan                                         
c)      kata ulang                                              
d)     gabungan kata                                       
e)     kata ganti kau, ku, mu, dan nya
f)       kata depan di, ke, dan dari
g)     kata sandang si, dan sang
h)    partikel
i)       singkatan dan akronim
j)       angka dan lambang bilangan.            

4)      Penulisan unsur serapan membicarakan kaidah cara penulisan unsur serapan, terutama kosakata yang berasal dari bahasa asing.

5)      Pemakaian tanda baca (pugtuasi) membicarakan teknik penerapan kelima belas tanda baca dalam penulisan. Tanda baca itu adalah :
a)     Tanda titik (.)                      
b)     Tanda koma (,)                          
c)      Tanda titik koma (;)           
d)     Tanda titik dua (:)                    
e)     Tanda hubung (-)               
f)       Tanda pisah (--)                  
g)     Tanda elipsis (…)                
h)    Tanda tanya (?)
i)       tanda seru (!)
j)       tanda kurung ((…))
k)     tanda kurung siku ([ ])
l)       tanda petik ganda (“…”)
m)  tanda petik tunggal (‘…’)
n)    tanda garis miring (/)
o)     tanda penyingkat (‘)

c.       Perlukah sebuah bahasa memiliki ejaan ? Mengapa ?

Perlu, sebab ejaan merupakan kaidah yang harus dipatuhi oleh pemakai demi keteraturan dan keseragaman bentuk yang akan berimplikasi pada ketepatan dan kejelasan makna.
Ibarat dalam berkendaraan di jalan raya, ejaan adalah rambu-rambu lalu lintas yang harus dipatuhi oleh setiap pengemudi. Jika par pengemudi tersebut mematuhi rambu-rambu lalu lintas yang ada maka terciptalah lalu lintas yang tertib dan teratur.

d.      Apa peranan ejaan bagi ragam tulisan ?

1)      Sebagai sumber referensi atau rujukan bagi banyak orang dalam menulis.
2)     Mencegah terjadinya multi penafsiran pada tiap-tiap orang yang membaca karena telah terpenuhinya aspek-aspek berikut ini :
a)     Pemilihan kosa kata dilakukan secara tepat.
b)     Pembentukan kata dilakukan secara sempurna.
c)      Kalimat yang dibentuk dengan struktur yang lengkap.
d)   Paragraf dikembangkan secara lengkap dan terpadu.

TUGAS -1 ( 2 - EB 10 )

MENUMBUHKAN SIKAP BERBAHASA INDONESIA YANG POSITIF TERHADAP BAHASA INDONESIA BAGI MAHASISWA

Mahasiswa itu adalah pribadi dewasa yang kesehariannya berinteraksi secara luas di masyarakat. Walhasil mereka cenderung memiliki kosa kata berbahasa yang luas pula. Namun mahasiswa lebih cenderung menggunakan bahasa yang bisa mempersatukan diantara mereka yang biasa disebut bahasa gaul. Bahasa gaul sebenarnya merusak tatanan EYD ( Ejaan Yang Disempurnakan ) dalam bahasa Indonesia.

Mahasiswa yang seharusnya sebagai generasi penerus bangsa Indonesia dididik agar menggunakan bahasa Indonesia tidak hanya digunakan secara formal di kampus namun juga digunakan sebagai bahasa pergaulan.
Bagaimana sih sebenarnya cara menumbuhkan sikap berbahasa Indonesia yang positip bagi kalangan mahasiswa?

Keinginan berbahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan dikalangan mahasiswa sebenarnya dapat dilakukan selama ada motivasi.
Motivasi dapat timbul dari dalam individu dan dapat pula timbul akibat pengaruh, dari dalam dan dari luar dirinya. Hal ini akan di uraikan sebagai berikut:

a. Motivasi Intrinsik.
Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan dari orang lain, tetapi atas kemauan sendiri. Misalnya anak mau belajar karena ingin memperoleh ilmu pengetahuan dan ingin menjadi orang berguna bagi nusa, bangsa, dan negara. Oleh krena itu, ia rajin belajar tanpa ada suruhan dari orang lain.

b. Motivasi Ekstrinsik
Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan kondisi yang demikian akhirnya ia mau melakukan sesuatu atau belajar. Misalnya anak mau belajar karena di suruh oleh orang tuanya agar mendapat peringkat pertama di kelasnya.

“To motivate a chield is to arrange conditions so that he wants to do what he is capable of doing”. Memotivasi anak berarti mengatur kondisi – kondisi sehingga ia ingin melakukan apa yang dapat dikerjakannya.

Dalam bahasa sehari-hari motivasi dinyatakan dengan: hasrat, keinginan, maksud, tekad, kehendak, cita-cita, keharusan, kesediaan, dan sebagainya.

Nah… sekarang bagaimana cara motivasi itu tumbuh dikalangan mahasiswa?

Pengetahuan tentang timbulnya motivasi belajar serta hambatan belajar memperoleh makna pedagogis yang istimewa, apabila dipertimbangkan dua hal berikut ini:

a. Penyebab utama timbulnya pengukuhan positif maupun negatif, atau dengan
perkataan lain pengalaman berhasil atau gagal bukanlah pada suatu fenomena alam yang misterius, melainkan pada pengajar.

b. Perkiraan akan gagal dan hambatan belajar di peroleh dalam proses interaksi sosial yang buruk kondisinya. Karena itu umumnya dapat dilenyapkan lagi dengan mengadakan kondisi belajar yang baik.

Dengan lain perkataan, pengajar dapat sangat mempengaruhi perkembangan motivasi dengan jalan membentuk corak pengajarannya secara selaras serta melalui bentuk-bentuk perilaku tertentu dalam interaksi yang berlangsung antara dirinya dan pengajar. Dengan begitu timbul pertanyaan, Bagaimanakah seharusnya sikap pengajar agar mendorong timbulnya motivasi belajar. Untuk menjawabnya, diperhatikan berbagai aspek :
- Perilaku yang memperkukuh perilaku belajar,
- ’’ Teknik-teknik motivasi’’ khusus untuk pengajar,
- Gaya interaksi sosial dalam proses mengajar dan belajar pada umumnya.

Dengan potensi pengajar yang dapat memotivasi mahasiswa untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan, percaya deh… Passti terwujud…

Sertifikat Keahlian

Selasa, 02 Maret 2010

PERWUJUDAN VISI DAN MISI

Pasca Reformasi banyak perubahan mendasar yang dilakukan organisasi POLRI. Tumbuh dan berkembang kesadaran akan pentingnya membangun citra dan kepercayaan publik bagi Polri, tidak saja ditunjukkan sebagai pemburu kejahatan (crime hunter) namun sekarang lebih cenderung selaku pengayom, pelindung dan pelayan masyarakat (publik service).
Dalam rangka proses perwujudan visi dan misinya maka untuk membangun kepercayaan masyarakat (Trust Building) telah digulirkan :

a. Program ”Quick Wins”
Program ”Quick Wins” terdiri dari 4 progam, yaitu :
1. Quick respon patroli samapta (cepat tanggap melayani permasalahan masyarakat);
2. Transparansi dalam Penyidikan Tindak Pidana Melalui Peberian SP2HP (Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan);
3. Transparansi dalam pengurusan dan Penerbitan SIM, STNK, dan BPKB;
4. Transparansi dalam melakukan Rekrutmen Anggota Polri (AKPOL, PPSS/Perwira Polisi Sumber Sarjana, dan BINTARA).
Program tersebut merupakan Tahap I dari perumusan Grand Strategi Polri 2005-2025. yang dicanangkan harus sudah dapat dicapai pada tahun 2010, kemudian dilanjutkan ke tahap II Partnership Building / kerjasama yang erat dengan berbagai pihak (2010-2014) serta tahap III Strive For Excellence/pelayanan public yang unggul dan dipercaya masyarakat (2016-2025).

b. Komitmen moral dalam rangka reformasi Birokrasi Polri implementasi nyata, Polri pada hari Jumat, tanggal 29 Mei 2009, Polri mendeklarasikan Komitmen Moral yang terdiri dari 9 poin, yang pada intinya berisikan bahwa Polri dengan penuh kesadaran bersepakat untuk senantiasa melaksanakan tugas pokok, fungsi dan perannya dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab. Polri siap mewujudkan suasana kerja yang transparan, nyaman, efisien, efektif, adil, profesional dan akuntabel, mengaktualisasikan etika kepemimpinan yang adil dan jujur, yaitu :

KOMITMEN MORAL DALAM RANGKA REFORMASI BIROKRASI POLRI

Kami anggota Polri dengan penuh kesadaran dan kesungguhan bersepakat untuk senantiasa :

1. melaksanakan tugas pokok fungsi & peranan dengan penuh dedikasi & tanggung jawab yang tinggi kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, masyarakat, bangsa & negara.
2. mewujudkan suasana kerja yg transparan, nyaman, efisien, efektif, adil, profesional & akuntabel.

3. menjamin pemimpin yg selalu memegang teguh & mengaktualisasikan etika kepemimpinan dengan menampilkan diri sebagai sosok pelayan yang jujur, berani, adil, bijaksana, transparan, terbuka, tauladan, kreatif, inovatif, kooperatif, & mengutamakan kepentingan anggota serta soliditas institusi.
4. Menjadi staf/pelaksana yang memegang teguh etika staf dengan menampilkan diri sebagai insan bhayangkara yg santun, ramah, empati, berkemanusiaan, adil, terbuka, ikhlas, jujur, loyal, setia, komunikatif, tanggung jawab & mengutamakan kepentingan masyarakat.
5. Menampilkan perilaku yang tegas, humanis, menghormati & menjunjung tinggi harkat & martabat manusia dengan menghindarkan diri dari perbuatan yg merugikan, membebani, meminta imbalan dlm bentuk apapun kepada masyarakat.
6. Menjaga kehormatan dan harga diri dengan tidak melakukan kolusi korupsi nepotisme serta berbagai bentuk penyalahgunaan wewenang lainnya.
7. Melayani masyarakat dengan penampilan fisik yang pantas disesuaikan dengan panggilan tugas.
8. Menjunjung tinggi hukum & hak asasi manusia serta norma-norma yg berlaku di masyarakat, menerapkan diskresi dengan penuh rasa tanggung jawab dan dilandasi hati yang bersih serta jiwa yg tulus.
9. Merespons kesulitan & membantu memecahkan masalah sosial dlm masyarakat dengan cepat merupakan perbuatan yg mulia dan luhur.

Senin, 22 Februari 2010

“APAKAH ADA HUBUNGAN ANTARA PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BAYI USIA 4 - 6 BULAN?”

“APAKAH ADA HUBUNGAN ANTARA PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DENGAN
KEJADIAN DIARE PADA BAYI USIA 4 - 6 BULAN?”

Kejadian seperti ini terjadi lagi. Lagi-lagi karena minimnya pengetahuan para ibu muda yang awam mengenai perawatan bayi.
Sungguh disayangkan seorang ibu yang akan memiliki seorang bayi tidak tahu apa yang seharusnya ia lakukan untuk menciptakan penerus bangsa secara optimal.
Kasus seperti diare pada bayi masih dianggap sepele, sehingga mereka tidak menghiraukan kadar cairan dalam tubuh sang bayi yang semakin berkurang. Mereka pun tidak menghiraukan kadar asupan gizi yang masuk ketubuh mereka yang pada akhirnya akan diserap oleh anak balita mereka melalui air susu ibu (ASI).
PERLU DIKETAHUI :

Pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif pada bayi umur 0-6 bulan sangat berpengaruh terhadap frekuensi kejadian diare. Berdasarkan hasil pengamatan praktik lapangan, bayi yang mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama frekuensi terkena diare sangat kecil bahkan mulai minggu ke-4 sampai bulan ke-6. Keadaan ini menggambarkan seluruh produk ASI dapat terserap oleh system pencernaan bayi. Menurut survey pemberantasan penyakit diare tahun 2000 bahwa angka kesakitan atau insiden diare terdapat 301 per 1000 penduduk di Indonesia.

Angka kesakitan diare pada balita adalah 1,0 - 1,5 kali per tahun. Menurut Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Depkes RI tahun 2000, bahwa 10% penyebab kematian bayi adalah diare. Data statistik menunjukkan bahwa setiap tahun diare menyerang 50 juta penduduk Indonesia dan dua pertiganya adalah bayi dengan korban meninggal sekitar 600.000 jiwa (Widjaja, 2002).

Diare merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian anak terutama di negara berkembang, dengan prakiraan sekitar 1,5 milyar episode dan 1,5 - 2,5 juta kematian tiap tahun. Sekitar 85% kematian yang berhubungan dengan diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan (Misnadiarly, 1995) Menurut laporan Dep.Kes RI, di Indonesia setiap anak mengalami episode diare 1,6 – 2 kali setahun (Dwipoerwantoro, 2003). Di bangsal gastroenterologi unit anak RSCM, FKUI angka kematian dengan penyakit diare sebanyak 20,3%. Angka kejadian dan kematian diare pada anak-anak di negara-negara
berkembang masih sangat tinggi, lebih-lebih pada anak-anak yang tidak mendapat ASI. Hal ini disebabkan adanya faktor-faktor nutrisi maupun non nutrisi pada ASI yaitu selain nilai gizi ASI yang tinggi juga di dalam ASI mengadung antibodi. Sel-sel darah putih, enzim, hormon, dan lain-lain (Suharjo,1992) .

Di bagian ilmu kesehatan anak FKUI/RSCM diare didefinisikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya. Hal ini banyak disebabkan oleh berbagai faktor yang diantaranya bakteri, virus, faktor lingkungan, faktor penyapihan dan higienis perorangan. Tetapi, dari bermacam-macam faktor itu yang paling banyak menyebabkan diare pada bayi adalah pada saat penyapihan, karena pada saat
ini bayi diberi susu formula atau makanan tambahan yang kurang higienis, oleh karena itu air susu ibu (ASI) yang merupakan makanan terbaik bagi bayi sangatlah perlu untuk diberikan pada bayi dengan diberikan ASI bayi akan banyak mendapat keuntungan salah satunya adalah zat-zat kekebalan yang terkandung di dalamnya, untuk melindungi dirinya dari penyakit-penyakit infeksi terutama penyakit diare (FKUI, 1985).

Diare dapat disebabkan oleh berbagai infeksi, selain penyebab lain seperti malabsorbsi. Diare sebenarnya merupakan salah satu gejala dari penyakit pada sistem gastrointestinal atau penyakit lain di luar saluran pencernaan, tetapi sekarang lebih dikenal dengan “penyakit diare”, karena dengan sebutan penyakit diare akan mempercepat tindakan penanggulangannya. Penyakit diare terutama pada bayi perlu mendapat tindakan secepatnya karena dapat membawa bencana bila terlambat (Ngastiyah, 1997).

Penyakit diare apabila tidak segera ditangani dapat menimbulkan beberapa komplikasi diantaranya yaitu terjadi dehidrasi, renjatan hipovolemik, hipokalemia, intoleransi laktosa sekunder, kejang dan kurang energi protein (FKUI, 1985).

Diare merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian anak terutama di negara berkembang, dengan prakiraan sekitar 1,5 milyar episode dan 1,5 - 2,5 juta kematian tiap tahun. Sekitar 85% kematian yang berhubungan dengan diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan (Misnadiarly, 1995)

Menurut laporan Dep.Kes RI, di Indonesia setiap anak mengalami episode diare 1,6 – 2 kali setahun (Dwipoerwantoro, 2003). Di bangsal gastroenterologi unit anak RSCM, FKUI angka kematian dengan penyakit diare sebanyak 20,3%. Menurut survey pemberantasan penyakit diare tahun 2000 bahwa angka kesakitan atau insiden diare terdapat 301 per 1000 penduduk di Indonesia.

Dengan demikian supaya dapat memberantas sunguh-sungguh penyakit diare diperlukan suatu komponen pengelolaan kasus diare yang tepat yaitu program pemberantasan penyakit diare atau P2D yang harus disertai beberapa upaya pencegahan yang akan mengurangi insiden keparahan diare sehingga meningkatkan penurunan angka kematian, dengan harapan akan tercapai keberhasilan pembangunan jangka panjang. (Afitia Pamedar,2008).

Diharapkan pula partisipasi dari Puskesmas terdekat diwilayah lebih menggalakkan program-program untuk menanggulangi penyakit diare ini, paling tidak dapat memberi dan menanamkan pemahaman tentang pentingnya asupan gizi bagi ibu menyusui untuk menghindari penyakit diare serta pencegahannya sedini mungkin.


Kelapadua, 23 Februari 2010

Nama : IKA KURNIATI
NPM : 27209035
Kelas : 4 EB 15
Kuliah : RISET AKUNTANSI