1. Definisi dari sosiologi
Sosiologi berasal dari bahasa Latin yaitu Socius yang berarti kawan, teman sedangkan Logos berarti ilmu pengetahuan. Ungkapan ini dipublikasikan diungkapkan pertama kalinya dalam buku yang berjudul "Cours De Philosophie Positive" karangan August Comte (1798-1857). Walaupun banyak definisi tentang sosiologi namun umumnya sosiologi dikenal sebagai ilmu pengetahuan tentang kemasyarakatan yang tersusun dari hasil-hasil pemikiran ilmiah dan dapat di kontrol secara kritis oleh orang lain atau umum.
Sifat – sifat hakikat sosiologi :
Sosiologi adalah ilmu sosial karena yang dipelajari adalah gejala-gejala kemasyarakatan bukan ilmu alam dan kerohanian
Sosiologi termasuk disiplin ilmu normatif, bukan merupakan disiplin ilmu kategori yang membatasi diri pada kejadian saat ini dan bukan apa yang terjadi atau seharusnya terjadi.
Sosiologi termasuk ilmu pengetahuan murni (pure science) dan ilmu pengetahuan terapan (apllied science).
Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan abstrak dan bukan ilmu pengetahuan konkret.
Artinya yang menjadi perhatian adalah bentuk dan pola peristiwa dalam masyarakat secara menyeluruh, bukan hanya peristiwa itu sendiri.
Sosiologi bertujuan menghasilkan pengertian dan pola-pola umum, serta mencari prinsip-prinsip dan hukum-hukum umum dari interaksi manusia, sifat, hakikat, bentuk, isi, dan struktur masyarakat manusia.
Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang empiris dan rasional. Hal ini menyangkut metode yang digunakan.
Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan umum (bukan Ilmu pengetahuan khusus), artinya sosiologi mempunyai gejala-gejala umum yang ada pada interaksi antara manusia.
2. Definisi dari politik
Politik adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Pengertian ini merupakan upaya penggabungan antara berbagai definisi yang berbeda mengenai hakikat politik yang dikenal dalam ilmu politik.
Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional.
Politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama (teori klasik Aristoteles).
Politik adalah hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan Negara.
Politik merupakan kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat.
Politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik.
Teori –teori ilmu politik
Teori politik adalah generalisasi dari phenomena-phenomena politik. Teori politik ini terdiri dari :
- Tujuan politik
- Cara mencapai tujuan politik tersebut
- Kemungkinan dan kebutuhan untuk cara tersebut
- Kewajiban dalam mencapai kebutuhan tersebut
3. Definisi dari ekonomi
Ekonomi merupakan salah satu ilmu sosial yang mempelajari aktivitas manusia yang berhubungan dengan produksi, distribusi, pertukaran, dan konsumsi barang dan jasa. Istilah "ekonomi" sendiri berasal dari kata Yunani οἶκος (oikos) yang berarti "keluarga, rumah tangga" dan νόμος (nomos), atau "peraturan, aturan, hukum," dan secara garis besar diartikan sebagai "aturan rumah tangga" atau "manajemen rumah tangga."
Teori ilmu ekonomi :
a. Teori pasar bebas,
Pasar bebas adalah pasar ideal, di mana seluruh keputusan ekonomi dan aksi oleh individu yang berhubungan dengan uang, barang, dan jasa adalah sukarela, dan oleh karena itu tanpa maling.
Ekonomi pasar bebas adalah ekonomi di mana pasar relatif bebas.
Pasar bebas diadvokasikan oleh pengusul ekonomi liberalisme (mengacu pada filosofi ekonomi-politik akhir-abad keduapuluhan, sebenarnya merupakan redefinisi)
b. Teori lingkaran ekonomi,
merupakan teori yang menjelaskan hubungan sosio-ekonomi dalam sebuah masyarakat dan negara.Teori ini diperkenalkan oleh H.S Yang sebagai bagian dari pemahaman ekonomi modern atau biasa disebut modern economics yang meliputi batas-batas kegiatan ekonomi dunia modern yaitu setelah 1990 an.
Teori ini menjelaskan bahwa aktivitas ekonomi individu baik sebagai pekerja, profesional, ataupun pengusaha baik besar maupun kecil dipengaruhi oleh lingkungannya ataupun keluarganya yang membentuk suatu lingkaran "circle" yg berputar-putar dan sifatnya menurun.
Sebagai contoh jika seseorang dilahirkan di keluarga pengusaha atau biasa disebut historical family unit maka ia akan condong bekerja sebagai pengusaha dan sebaliknya pekerja juga demikian. Untuk seseorang keluar atau berpindah dari lingkaran atau 'circle' ini, maka ada hal-hal khusus yang harus dipenuhi , atara lain keberanian atau kenekatan, keberuntungan, keterpaksaan ekonomi, faktor-faktor eksternal seperti bencana alam, perang, dan sebagainya yang dapat mengubah orientasi cara seseorang menjalankan aktivitas ekonominya.
c. Teori invisible hand,
Aliran yang dipelopori oleh Adam Smith ini menekankan pada adanya invisible hand, dalam mengatur sumber daya dalam mengatur sumber daya dan oleh karenanya peran pemerintah menjadi sangat dan oleh karenanya peran pemerintah menjadi sangat dibatasi karena akan mengganggu proses ini.
Konsep invisible handinvisible hand ini kemudian direpresentasikan sebagai mekanisme pasar melalui harga sebagai instrumen mekanisme pasar melalui harga sebagai instrumen utamanya.
d. Teori informatic economy,
Kasus dimana terdapat informasi asimetris atau ketidak pastian (informasi yang inefisien). Informasi asimetris terjadi ketika salah satu pihak dari transaksi memiliki informasi yang lebih banyak dan baik dari pihak yang lain. Biasanya para penjua yang lebih tahu tentang produk tersebut daripada sang pembeli, tapi ini tidak selalu terjadi dalam kasus ini. Contohnya, para pelaku bisnis mobil bekas mungkin mengetahui dimana mbil tersebut telah digunakan sebagai mobil pengantar atau taksi, informasi yang tidak tersedia bagi pembeli. Contoh dimana pembeli memiliki informasi lebih baik dari penjual merupaka penjualan rumah atau vila, yang mensyaratkan kesaksian penghuni sebelumnya. Seorang broker real estate membeli rumah ini mungkin memiliki informasi lebih tentang rumah tersebut dibandingkan anggota keluarga yang ditinggalkan. Situasi ini dijelaskan pertamakali oleh Kenneth J. Arrow di artikel seminartentang kesehatan tahun 1963 berjudul "ketidakpastian dan Kesejahteraan Ekonomi dari Kepedulian Kesehatan," di dalam American Economic Review. George Akerlof kemudian menggunakan istilah informasi asimetris pada karyanya ditahun 1970 The Market for Lemons. Akerlof menyadari bahwa , dalam pasar seperti itu, nilai rata-rata dari komoditas cenderung menurun, bahkan untuk kualitas yang sangat sempurna kebaikannya, karena para pembelinya tidak memiliki cara untuk mengetahui apakah produk yang mereka beli akan menjadi sebuah "lemon" (produk yang menyesatkan).
e. Teori merkantilisme,
adalah suatu teori ekonomi yang menyatakan bahwa kesejahteraan suatu negara hanya ditentukan oleh banyaknya aset atau modal yang disimpan oleh negara yang bersangkutan, dan bahwa besarnya volum perdagangan global teramat sangat penting. Aset ekonomi atau modal negara dapat digambarkan secara nyata dengan jumlah kapital (mineral berharga, terutama emas maupun komoditas lainnya) yang dimiliki oleh negara dan modal ini bisa diperbesar jumlahnya dengan meningkatkan ekspor dan mencegah (sebisanya) impor sehingga neraca perdagangan dengan negara lain akan selalu positif. Merkantilisme mengajarkan bahwa pemerintahan suatu negara harus mencapai tujuan ini dengan melakukan perlindungan terhadap perekonomiannya, dengan mendorong eksport (dengan banyak insentif) dan mengurangi import (biasanya dengan pemberlakuan tarif yang besar). Kebijakan ekonomi yang bekerja dengan mekanisme seperti inilah yang dinamakan dengan sistem ekonomi merkantilisme.
Ajaran merkantilisme dominan sekali diajarkan di seluruh sekolah Eropa pada awal periode modern (dari abad ke-16 sampai ke-18, era dimana kesadaran bernegara sudah mulai timbul). Peristiwa ini memicu, untuk pertama kalinya, intervensi suatu negara dalam mengatur perekonomiannya yang akhirnya pada zaman ini pula sistem kapitalisme mulai lahir. Kebutuhan akan pasar yang diajarkan oleh teori merkantilisme akhirnya mendorong terjadinya banyak peperangan dikalangan negara Eropa dan era imperialisme Eropa akhirnya dimulai. Sistem ekonomi merkantilisme mulai menghilang pada akhir abad ke-18, seiring dengan munculnya teori ekonomi baru yang diajukan oleh Adam Smith dalam bukunya The Wealth of Nations, ketika sistem ekonomi baru diadopsi oleh Inggris, yang notabene saat itu adalah negara industri terbesar di dunia.
f. Teori briton woods
Sistim nilai tukar mata uang bebas-apung merupakan nilai tukar yang dibolehkan untuk berbeda terhadap yang lain dan mata uang ditentukan berdasarkan kekuatan-kekuatan pasar atas dari penawaran dan permintaan nilai tukar mata uang akan cenderung berubah hampir selalu seperti yang akan dikutip pada papan pasar keuangan, terutama oleh bank-bank di seluruh dunia sedangkan dalam penggunaan sistem pasak nilai tukar mata uang atau merupakan nilai tukar tetap dengan ketentuan berlakunya devaluasi dari nilai mata uang berdasarkan sistem Bretton Woods.
4. Objek – objek dari :
a. Sosiologi adalah :
Objek Material
Objek material sosiologi adalah kehidupan sosial, gejala-gejala dan proses hubungan antara manusia yang memengaruhi kesatuan manusia itu sendiri.
Objek Formal
Objek formal sosiologi lebih ditekankan pada manusia sebagai makhluk sosial atau masyarakat. Dengan demikian objek formal sosiologi adalah hubungan manusia antara ma
b. Politik adalah :
Partai dan Golongan, Masyarakat ( sekumpulan orang orang yang mendiami wilayah suatu Negara ), Kekuasaan, Negara, Tokoh dan pemikir ilmu politik serta Perilaku politik.
c. Ekonomi adalah :
Barang dan jasa yang memiliki Nilai, dimana nilai tersebut akan ditentukan karena mempunyai kemampuan untuk dapat memenuhi kebutuhan.
Kamis, 21 Oktober 2010
Senin, 26 Juli 2010
Selasa, 18 Mei 2010
TUGAS -5 ( 2 - EB 10 )
MEMBUAT OPINI TENTANG PERENCANAAN PENULISAN
Apa itu Artikel?
Menurut :
1. WJS Poerwadarminta menyebutnya sebagai karangan dalam majalah atau surat kabar.
2. Penulis lain yang juga novelis Ircham Mc menyebut, artikel sebagai karangan pendek nonfiksi.
Kedua definisi ini memang belum menunjuk pada suatu bentuk karangan yang spesifik, sehingga orang sering mengacaukan antara artikel, esai dan feature.
Ketika orang menyebut artikel berdasarkan definisi itu maka akan termasuk di dalamnya esai maupun feature. Padahal antara ketiganya terdapat perbedaan yang cukup mendasar.
Perbedaan – perbedaan tersebut antara lain :
FEATURE adalah berita kisah, karena featuresepenuhnya dibangun oleh fakta, jadi fakta yang dikisahkan sehingga bersifat faktual.
Feature itu sendiri mengandung nilai keunikan, kemanusiaan atau sesuatu yang sangat dramatis.
Artikel unsur bangunan utama adalahgagasan atau pemikiran kritis terhadap sesuatu, ditandai oleh cirinya yang ilmiah populer, bersifat komprehensif dan pretensi ilmiah, artinya bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Esai, umumnya tidak memiliki pretensi ilmiah.
Menurut Arief Budiman, esai bergerak dari ilmu dan imajinasi.
Karena itu, esai dalam kerangka antara karya ilmiah populer dan karya sastra.
Karenanya, gaya keindahan penulisan sering sangat menentukan daya tarik sebuah esai.
Sebutlah misalnya esai Goenawan Mohammad dengan ’Catatan Pinggir’. Rata-rata karyanya indah dan nikmat untuk dibaca.
AK Kartahadimaja menyebut, feature masuk dalam wilayah fakta dan artikel dalam wilayah opini. Sementara feature berawal pada wilayah antara opini dan fiksi
Artikel kalau ’dipaksa’ didefinisikan kurang lebih bermakna, karangan pendek yang bersifat komprehensif dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Artinya, pendapat, gagasan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Ada landasan teori, ada bukti empirik, ada sumber, rujukan yang jelas dan komprehensif.
Bagi yang sudah terbiasa menulis, langkah-langkah ini tidak begitu penting. Banyak penulis begitu menghadapi mesin ketik, komputer, opini, gagasan akan langsung mengalir dengan sendirinya. Bagi penulis pemula, terutama bagi yang mulai belajar, cara tersebut tentu tidak mungkin dilakukan. Maka perlu petunjuk atau langkah-langkah praktis.
Slamet Suseno dalam bukunya ’Teknik Penulisan Ilmiah Populer’ menyebutkan terdapat 5 (lima langkah pokok tahapan dalam perencanaan penulisan artikel, yakni :
PERTAMA, memilih topik.
Memilih topik adalah memilih pokok pembicaraan atau pokok permasalahan, sesuatu yang kita sorot, kita kuliti lewat tulisan. Kita dapat memlilih topik tentang politik, sastra, pendidikan, ekonomi, agama, dsb.
apa saja yang menjadi minat dan disiplin ilmu yang digeluti penulis. Kita harus memilih satu topik saja untuk satu karangan. Menulislah yang dikuasai, disiplin ilmu yang ditekuni.
KEDUA, membatasi topik.
Kesalahan umum penulis pemula, sering membuat TOPIK yang terlalu luas, akhirnya justru
merepotkan penulis itu sendiri saat pembahasan terlalu panjang dan bertele-tele.
KETIGA, menentukan Tema.
Setelah memilih topik, barulah bisa menetukan tema. Tema adalah pikiran dasar, pokok pikiran yang mendasari suatu karangan yang dijabarkan dari awal hingga akhir tulisan. Tema sesungguhnya merupakan penyempitan topik.
Tema itu langsung menunjuk aspek permasalahan yang akan dibahas. Tema itu ibarat rel di mana kereta api (artikel) akan meluncur di atasnya dari masalah yang kita kupas. Tema itu penting agar pokok pembicaran tidak melebar ke mana-mana dan tidak bias.
KEEMPAT, merumuskan tesis atau pengungkapan maksud
Dalam merumuskan tesis atau pengungkapan maksud yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :
mengumpulkan bahan-bahan artikel bisa dihimpun dari mana saja, misalnya dari pustaka, majalah, koran, makalah, wawancara, observasi, penelitian sesuai yang kita butuhkan. Materi tersebut diramu tanpa meninggalkan jejak dari mana bahan tersebut dihimpun, tetap memperhatikan etika kepenulisan, misalnya menyebut sumber, memilih atau membuat judulSetelah kita memilih topik, menentukan tema, mengumpulkan bahan, biasanya sudah bisa membuat judul karangan yang menarik. Membuat judul bisa dilakukan awal menulis atau sesuatu kegiatan menulis selesai. Tetapi, membuat judul di awal tulisan bisa membantu mengarahkan pada tulisan yang telah dipersiapkan. Membuat judul perlu ketrampilan tersendiri. Dalam bahasa iklan, judul itu harus ’nendang’, menarik orang untuk membaca. Pentahapannya sebagai berikut :
1. Memilih pola penggarapan
Menurut Slamet Suseno, ada 5 pola penggarapan artikel, yakni pola pemecahan masalah (memberi solusi), pola pendapat dan alasan pemikiran, pola kronologi, pola perbandingan, pola abstrak dan diskripsi.
Dalam menulis kita bisa dengan pola satu, dua,tiga sesuai kebutuhan. Tapi umumnya, menulis artikel di media massa menggunakan pola pemecahan masalah dengan memberi solusi.
2. Membuat kerangka karangan.
Mereka yang sudah bisa menulis tidak membutuhkan kerangka karangan/draf/outline/ karena sudah terangkum dalam kepala. Bagi penulis pemula, draf atau outline sangat membantu dalam penulisan artikel. Draf bisa membantu sistematika tulisan. Apa yang perlu ditulis di awal, tengah dan akhir tulisan.
3. Memulai dan membuka karangan.
Bagi penulis pemula, memulai mengarang seringkali menjadi pekerjaan yang sangat sulit dilakukan. Bisa jadi membutuhkan waktu berjam-jam untuk membuat ’Lead’ atau awal karangan. Untuk mengatasi hal ini ada beberapa jenis intro/lead, yakni intro statemen, intro narasi, intro diskripsi, intro pertanyaan. Pilihan itu bergantung pada penulis, style kepenulisan.
KELIMA, menutup karangan
Menutup karangan setelah berhasil membuka karangan, biasanya gagasan
mengalir dengan sendirinya. Ibarat kran air yang telah dibuka tutupnya. Tapi ada pula bisa membuka, tidak bisa mengakhiri. Macet tengah jalan. Biasanya kondisi ini terjadi karena penulis belum menguasai persoalan secara utuh, masih sepotong-sepotong. Caranya keluar dari kondisi itu, kuasai secara mendalam. Dalam setiap diklat kepenulisan saya sering memberi tips rahasia, agar tetap kreatif menulis.
Kesimpulan :
1. Kuasai informasi sebanyak-banyaknya, kemudian dianalisis, pasti akan muncul ide yang menarik.
2. Penulis atau wartawan kreatif tidak akan pernah kehabisan tulisan atau berita.
3. Menulis itu kerja intelektual, artinya dibutuhkan pergulatan pengumpulan
informasi, ketajaman analisis dan munculnya ide yang mencerahkan. Konsekuensinya dituntut kerja keras dan pantang menyerah.
4. Satu hal lagi, menulis artikel bukan ditulis untuk diri sendiri, tetapi dibaca publik. Prinsipnya, didalam menulis sekali baca bias dimengerti. Baik berita maupun artikel. Untuk daya komunikatif, tema, logika dansistematika kepenulisan harus dijaga betul. Artinya, rasa bahasa danketerbacaan seperti tali temali yang sambung menyambung. Yakni, tulisan, opini/artikel yang padat, komunikatif dan solutif.
5. Teori menulis bisa dibeber lebih panjang lagi. Hanya ada dua kata: BELAJARLAH MEMULAI apapun hasilnya.
Apa itu Artikel?
Menurut :
1. WJS Poerwadarminta menyebutnya sebagai karangan dalam majalah atau surat kabar.
2. Penulis lain yang juga novelis Ircham Mc menyebut, artikel sebagai karangan pendek nonfiksi.
Kedua definisi ini memang belum menunjuk pada suatu bentuk karangan yang spesifik, sehingga orang sering mengacaukan antara artikel, esai dan feature.
Ketika orang menyebut artikel berdasarkan definisi itu maka akan termasuk di dalamnya esai maupun feature. Padahal antara ketiganya terdapat perbedaan yang cukup mendasar.
Perbedaan – perbedaan tersebut antara lain :
FEATURE adalah berita kisah, karena featuresepenuhnya dibangun oleh fakta, jadi fakta yang dikisahkan sehingga bersifat faktual.
Feature itu sendiri mengandung nilai keunikan, kemanusiaan atau sesuatu yang sangat dramatis.
Artikel unsur bangunan utama adalahgagasan atau pemikiran kritis terhadap sesuatu, ditandai oleh cirinya yang ilmiah populer, bersifat komprehensif dan pretensi ilmiah, artinya bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Esai, umumnya tidak memiliki pretensi ilmiah.
Menurut Arief Budiman, esai bergerak dari ilmu dan imajinasi.
Karena itu, esai dalam kerangka antara karya ilmiah populer dan karya sastra.
Karenanya, gaya keindahan penulisan sering sangat menentukan daya tarik sebuah esai.
Sebutlah misalnya esai Goenawan Mohammad dengan ’Catatan Pinggir’. Rata-rata karyanya indah dan nikmat untuk dibaca.
AK Kartahadimaja menyebut, feature masuk dalam wilayah fakta dan artikel dalam wilayah opini. Sementara feature berawal pada wilayah antara opini dan fiksi
Artikel kalau ’dipaksa’ didefinisikan kurang lebih bermakna, karangan pendek yang bersifat komprehensif dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Artinya, pendapat, gagasan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Ada landasan teori, ada bukti empirik, ada sumber, rujukan yang jelas dan komprehensif.
Bagi yang sudah terbiasa menulis, langkah-langkah ini tidak begitu penting. Banyak penulis begitu menghadapi mesin ketik, komputer, opini, gagasan akan langsung mengalir dengan sendirinya. Bagi penulis pemula, terutama bagi yang mulai belajar, cara tersebut tentu tidak mungkin dilakukan. Maka perlu petunjuk atau langkah-langkah praktis.
Slamet Suseno dalam bukunya ’Teknik Penulisan Ilmiah Populer’ menyebutkan terdapat 5 (lima langkah pokok tahapan dalam perencanaan penulisan artikel, yakni :
PERTAMA, memilih topik.
Memilih topik adalah memilih pokok pembicaraan atau pokok permasalahan, sesuatu yang kita sorot, kita kuliti lewat tulisan. Kita dapat memlilih topik tentang politik, sastra, pendidikan, ekonomi, agama, dsb.
apa saja yang menjadi minat dan disiplin ilmu yang digeluti penulis. Kita harus memilih satu topik saja untuk satu karangan. Menulislah yang dikuasai, disiplin ilmu yang ditekuni.
KEDUA, membatasi topik.
Kesalahan umum penulis pemula, sering membuat TOPIK yang terlalu luas, akhirnya justru
merepotkan penulis itu sendiri saat pembahasan terlalu panjang dan bertele-tele.
KETIGA, menentukan Tema.
Setelah memilih topik, barulah bisa menetukan tema. Tema adalah pikiran dasar, pokok pikiran yang mendasari suatu karangan yang dijabarkan dari awal hingga akhir tulisan. Tema sesungguhnya merupakan penyempitan topik.
Tema itu langsung menunjuk aspek permasalahan yang akan dibahas. Tema itu ibarat rel di mana kereta api (artikel) akan meluncur di atasnya dari masalah yang kita kupas. Tema itu penting agar pokok pembicaran tidak melebar ke mana-mana dan tidak bias.
KEEMPAT, merumuskan tesis atau pengungkapan maksud
Dalam merumuskan tesis atau pengungkapan maksud yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :
mengumpulkan bahan-bahan artikel bisa dihimpun dari mana saja, misalnya dari pustaka, majalah, koran, makalah, wawancara, observasi, penelitian sesuai yang kita butuhkan. Materi tersebut diramu tanpa meninggalkan jejak dari mana bahan tersebut dihimpun, tetap memperhatikan etika kepenulisan, misalnya menyebut sumber, memilih atau membuat judulSetelah kita memilih topik, menentukan tema, mengumpulkan bahan, biasanya sudah bisa membuat judul karangan yang menarik. Membuat judul bisa dilakukan awal menulis atau sesuatu kegiatan menulis selesai. Tetapi, membuat judul di awal tulisan bisa membantu mengarahkan pada tulisan yang telah dipersiapkan. Membuat judul perlu ketrampilan tersendiri. Dalam bahasa iklan, judul itu harus ’nendang’, menarik orang untuk membaca. Pentahapannya sebagai berikut :
1. Memilih pola penggarapan
Menurut Slamet Suseno, ada 5 pola penggarapan artikel, yakni pola pemecahan masalah (memberi solusi), pola pendapat dan alasan pemikiran, pola kronologi, pola perbandingan, pola abstrak dan diskripsi.
Dalam menulis kita bisa dengan pola satu, dua,tiga sesuai kebutuhan. Tapi umumnya, menulis artikel di media massa menggunakan pola pemecahan masalah dengan memberi solusi.
2. Membuat kerangka karangan.
Mereka yang sudah bisa menulis tidak membutuhkan kerangka karangan/draf/outline/ karena sudah terangkum dalam kepala. Bagi penulis pemula, draf atau outline sangat membantu dalam penulisan artikel. Draf bisa membantu sistematika tulisan. Apa yang perlu ditulis di awal, tengah dan akhir tulisan.
3. Memulai dan membuka karangan.
Bagi penulis pemula, memulai mengarang seringkali menjadi pekerjaan yang sangat sulit dilakukan. Bisa jadi membutuhkan waktu berjam-jam untuk membuat ’Lead’ atau awal karangan. Untuk mengatasi hal ini ada beberapa jenis intro/lead, yakni intro statemen, intro narasi, intro diskripsi, intro pertanyaan. Pilihan itu bergantung pada penulis, style kepenulisan.
KELIMA, menutup karangan
Menutup karangan setelah berhasil membuka karangan, biasanya gagasan
mengalir dengan sendirinya. Ibarat kran air yang telah dibuka tutupnya. Tapi ada pula bisa membuka, tidak bisa mengakhiri. Macet tengah jalan. Biasanya kondisi ini terjadi karena penulis belum menguasai persoalan secara utuh, masih sepotong-sepotong. Caranya keluar dari kondisi itu, kuasai secara mendalam. Dalam setiap diklat kepenulisan saya sering memberi tips rahasia, agar tetap kreatif menulis.
Kesimpulan :
1. Kuasai informasi sebanyak-banyaknya, kemudian dianalisis, pasti akan muncul ide yang menarik.
2. Penulis atau wartawan kreatif tidak akan pernah kehabisan tulisan atau berita.
3. Menulis itu kerja intelektual, artinya dibutuhkan pergulatan pengumpulan
informasi, ketajaman analisis dan munculnya ide yang mencerahkan. Konsekuensinya dituntut kerja keras dan pantang menyerah.
4. Satu hal lagi, menulis artikel bukan ditulis untuk diri sendiri, tetapi dibaca publik. Prinsipnya, didalam menulis sekali baca bias dimengerti. Baik berita maupun artikel. Untuk daya komunikatif, tema, logika dansistematika kepenulisan harus dijaga betul. Artinya, rasa bahasa danketerbacaan seperti tali temali yang sambung menyambung. Yakni, tulisan, opini/artikel yang padat, komunikatif dan solutif.
5. Teori menulis bisa dibeber lebih panjang lagi. Hanya ada dua kata: BELAJARLAH MEMULAI apapun hasilnya.
Senin, 05 April 2010
Jurnal Internasional - tugas III
3. Metode Penelitian.
Dalam penelitian ini menggunakan desain kausal untuk menganalisis hubungan antara suatu variabel dengan variabel lainnya ( Umar, 2001 63)Populasi pada penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur bidang yang terdaftar di bursa efek Indonesia. Dalam hal ini peneliti memilih perusahaan publik yang bergerak diindustri manufaktur dengan pertimbangan banyaknya sampel yang dapat diperoleh dan keandalan biaya(manfaat) biaya pajak tangguhan yang disajikan. Industri lain, misalnya perbankan, terlalu banyak dipengaruhi oleh regulasi pemerintah. Populasi dalam penelitian in berjumlah 151 perusahaan manufaktur (Indonesia Capital Market Directory, 2008).
Adapun kriteria pengambilan sampel yang digunakan adalah:
1. perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI dan mempublikasikan laporan keuangan auditan secara konsisten dan lengkap dari tahun 2005 sampai 2007. Namun tidak keluar (delisting) dari BEJ selama periode penelitian (2005– 2007)
2. Laporan keuangan menggunakan mata uang Indonesia dan periode berakhirnya laporan keuangan per 31 Desember.
3. Perusahaan tidak mengalami kerugian dalam laporan keuangan umum dan laporan keuangan pajak selama tahun pengamatan. Alasannya karena kerugian dapat dikompensasi kemasa depan menjadi pengurang biaya pajak tangguhan
4. Perusahaan manufaktur yang menyajikan laba perusahaan dilaporan keuangan tidak memiliki fluktuasi yang terlalu rendah dan terlalu tinggi.
Dalam penelitian variabel independen yakni perbedaan antara laba akuntansi dan laba fiskal (book-tax differences) sebagai proksi discretionary accrual merupakan selisih antara laba akuntansi dan laba fiskal Variabel book-tax differences merupakan variabel moderasi yang mewakili subsampel perusahaan dengan perbedaan besar positif, dan perbedaan besar negatif. Seluruh variabel penelitian PTBI t+1 dan PTBI t dibagi dengan aset total rata-rata.
4. Metode Analisis Data.
4.1 Uji Asumsi Klasik
Metode analisis data yang digunakan adalah metode analisis regresi sederhana dan regresi berganda dengan bantuan software SPSS or Windows. Penggunaan metode analisis dalam regresi dalam pengujian hipotesis terledih dahulu diuji apakah model tersebut telah memenuhi asumsi klasik atau tidak. Pengujian asumsi terdiri dari uji normalitas, uji multikolinearitas, uji autokorelasi, dan uji heterokedasitas.
a. Uji Normalitas.
Uji normalitas data bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Berdasarkan hasil uji statistik dengan model kolmogrov-smirnov. Diketahui nilai Asymp. Sig (2-tailed)untuk model 1 dan model 2 adalah 0.261 dan 0,183. Dan keduanya lebih besar dari 0,05.
b. Uji Multikolinieritas
Uji Multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antara antara variabel independen. Ada tidaknya multikolonieritas dapat dideteksi dengan melihat nilai tolerance dan variance inflation factor (VIF), Semua variabel independen memiliki nilai VIF<10 .Selain itu nilai toleransi untuk setiap variabel lebih besar dari 0,1(tolerance>0.1. Dengan demikian dapat pula disimpulakan tidak terjadi multikolinearitas dalam model regresi ini. Hasil perhitungan nilai tolerance menunjukkan variabel independen memiliki nilai tolerance lebih dari 0.10 yaitu 0.3830 yang berarti tidak terjadi korelasi antar variabel independen. Hasil perhitungan VIF juga menunjukkan hal yang sama dimana variabel independen memiliki nilai VIF kurang dari 10 untuk model 2 yaitu 2,608.
c. Uji Heteroskedastisitas
Uji ini memiliki tujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual suatu pengamatan ke pengamatan yang lain. Ada tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat grafik Scaterplot antar nilai prediksi variabel independen dengan nilai residualnya. Setelah diuji dengan grafik scatter plot dapat dilihat tidak ada pola yang jelas baik untuk model 1 maupun model 2. Serta titik menyebar diatas dan dibawah sumbu Y, maka dapat disimpulkan tidak terjadi heteokedastisitas pada model regresi ini.
d. Uji Autokorelasi
Uji ini bertujuan untuk melihat apakah dalam suatu model regresi linear ada korelasi antar kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1. Dari tabel Durbin Watson diperoleh nilan untuk model 1dan model 2 adalah sebesar 1,817 dan 1,742. Angka ini terletak diantara -2 dan +2.
4.2 Pengujian Hipotesis
Regresi linier sederhana dilakukan untuk mengestimasi persistensi laba akuntansi sebelum pajak. Regresi berganda merupakan pengembangan dari regresi sederhana dengan memasukkan koefisien laba yang membedakan tingkatan book tax diffrences. Analisis data dimulai dengan mengolah data dengan menggunakan Microsoft excel, selanjutnya dilakukan pengujian asumsi klasik dan pengujian menggunakan regresi linier sederhana dan berganda. Dari uji ANOVA atau F test, diperoleh F hitung sebesar 16,083 dengan tingkat signifikansi 0,000, sedangkan F tabel sebesar 2.320529 dengan signifikansi 0,05. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel independen berpengaruh secara simultan dan signifikan terhadap laba sebelum pajak yang akan datang. karena F hitung > F tabel (16,083 >2,320529) dan sig penelitian < 0,05 (0,000 < 0,05).
a. Persamaan Regresi
1) Persamaan regresi Model 1 (Regresi sederhana).
PTBI t+1 = 0.1130 + 0.547 PTBI t
Keterangan:
a) Konstanta sebesar 0.1130 menunjukkan bahwa apabila tidak ada variabel independen (PTBI) maka PTBI t+1 sebesar 0,1130.
b) PTBI t sebesar 0,547 menunjukkan bahwa setiap kenaikan PTBI t sebesar 1% akan diikuti oleh kenaikan PTBI t+1 sebesar 0,547 dengan asumsi variabel lain tetap.
2) Persamaan regresi Model 2 ( Regresi Berganda).
Berdasarkan tabel, didapatlah persamaan regresi sebagai berikut:
PTBI t+1= 0.007263 + 0.006878 LNBTD + 0.0280 LPBTD +0.701PTBI – 0.265 LNBTD*PTBI - 0.463 LPBTD*PTBI + ε
Keterangan :
a) konstanta sebesar 0.007263 menunjukkan bahwa apabila tidak ada variabel independen (LNBTD, LPBTD, PTBI, LNBTD*PTBI, dan LPBTD*PTBI= 0) maka PTBI t+1 sebesar 0.007263.
b) variabel LNBTD sebesar 0,006878 menunjukkan bahwa setiap kenaikan LNBTD sebesar 1% akan diikuti oleh kenaikan PTBI t+1 sebesar 0,006878 dengan asumsi variabel lain tetap.
c) variabel LPBTD sebesar 0,0280 menunjukkan bahwa setiap kenaikan 1% pada LPBTD akan diikuti oleh kenaikan PTBI t+1 sebesar 0,0280 dengan asumsi variabel lain tetap.
d) variabel LNBTD*PTBI sebesar -0,265 menunjukkan bahwa setiap kenaikan LNBTD sebesar 1% akan diikuti oleh penurunan PTBI t+1 sebesar 0,265 dengan asumsi variabel lain tetap.
e) variabel LPBTD*PTBI sebesar -0.463 menunjukkan bahwa setiap kenaikan 1% pada LPBTD akan diikuti oleh penurunan PTBI t+1 sebesar 0,463 dengan asumsi variabel lain tetap.
4.3 Pembahasan Hasil Penelitian
Nilai Adjusted R Square sebesar 0,461 Hal ini berarti bahwa 46,1 % variasi atau laba akuntansi sebelum pajak yang akan datang dapat dijelaskan oleh kelima variabel independennya, yaitu LNBTD, LPBTD, PTBI, LNPTBI*PTBI, dan LPBTD*PTBI., sedangkan sisanya sebesar 53.9 % dijelaskan oleh sebab-sebab lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian.Berdasarkan hasil pengujian diketahui bahwa secara parsial variabel LPBTD, PTBI t berpengaruh signifikan terhadap laba akuntansi sebelum pajak satu periode kedepan, sementara itu variabel LPBTD*PTBI berpengaruh negatif signifikan terhadap laba sebelum pajak satu periode kedepan. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan antara laba akuntansi dan laba fiskal yang diwakili oleh interaksi LPBTD*PTBI berpengaruh negatif terhadap persistensi laba. Persistensi laba ditunjukkan oleh pengaruh positif dari PTBI terhadap PTBI t+1 (laba sebelum pajak satu periode kedepan). Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Hanlon (2005) yang menemukan bahwa secara parsial PTBI dan LPBTD*PTBI t berpengaruh positif signifikan terhadap PTBI t+1 dan variabel LPBTD*PTBI mempunyai pengaruh negatif dan signifikan terhadap PTBI t+1. Dari hasil penelitian ini, variabel LNBTD dan variabel LPBTD tidak berpengaruh terhadap PTBI t+1.
5. Kesimpulan dan Saran
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, maka dapat diambil kesimpulan adalah secara parsial variabel PTBI, LPBTD berpengaruh positif signifikan terhadap PTBI t+1. Sementara itu variabel LPBTD*PTBI t berpengaruh secara negatif signifikan terhadap PTBI t+1. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan antara laba akuntansi dan laba fiskal berpengaruh secara negatif signifikan terhadap persistensi laba. Hasil penelitian ini sama dengan penelitian terdahulu Hanlon (2005) yang menghasilkan kesimpulan bahwa perbedaan antara laba akuntansi dan laba fiskal secara negatif berpengaruh signifikan terhadap persistensi laba.
Hasil penelitian ini tidak mendukung hasil penelitian terdahulunya yang dilakukan oleh Djamaluddin (2008) yang meneliti pada perusahaan perbankan yang menemukan bahwa secara parsial variabel LNBTD*PTBI t dan LPBTD*PTBI t tidak terbukti secara statistik mempunyai persistensi laba yang lebih rendah daripada perusahaan yang memiliki perbedaan kecil antara laba akuntansi dan laba fiskal. Hal ini mungkin disebabkan karena banyaknya regulasi khusus tentang pelaporan pajak perbankan menyebabkan perbedaan dalam pengakuan item-item perbedaan temporer. Secara simultan, dapat diambil kesimpulan semua variabel yang digunakan dalam variabel penelitian berpengaruh positif signifikan terhadap laba sebelum pajak satu periode kedepan. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Djamaluddin (2008) dan Hanlon (2005).
5.2 Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, antara lain:
a. penelitian ini hanya mengambil perusahaan manufaktur sebagai sampel dan pengambilan sampelnya tidak random sehingga tidak dapat dijadikan sebagai dasar generalisasi Hal ini dikarenakan penelitian ini hanya memfokuskan pada perusahan yang menghasilkan laba.
b. periode pengamatan dalam penelitian ini terbatas karena hanya mencakup tahun 2005-2007
5.3 Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti mencoba memberikan saran baik bagi pihak perusahaan, calon investor dan investor serta peneliti selanjutnya.
a. Bagi Perusahaan.
Untukmeningkatkan kepercayaan pemegang saham terhadap perusahaan, maka perusahaan harus mampu menunjukkan kinerja perusahaan dan menyampaikan informasi yang relevan dan reliabel kepada investor mengenai perkembangan perusahaan, tanpa harus dilakukannya manajemen laba. Karena indikasi manajemen laba dapat dilihat dari perbedaan antara laba akuntansi dan laba fiskal yang dilaporkan perusahaan dengan yang dilaporkan pajak.
b. Bagi Investor dan Calon Investor.
Untuk mengetahui kinerja perusahaan dari laba yang dihasilkan perusahaan serta item pendukung lainnya di dalam laporan keuangan, sebelum melakukan investasi sebaiknya para investor maupun calon investor mencari tahu mengenai profil perusahaan. Profil perusahaan dapat diperoleh melalui Bursa Efek Indonesia dan Instansi Pemerintah yaitu Bapepam sebagai pihak yang menentukan kebijakan di Bursa Efek Indonesia dalam menjamin keakuratan data informasi keuangan
c. Bagi Peneliti Selanjutnya.
Peneliti selanjutnya disarankan untuk mengambil sampel perusahaan baik yang mengalami keuntungan maupun kerugian dalam usahanya. Peneliti selanjutnya juga diharapkan untuk menambah tahun pengamatan sehingga hasil yang diperoleh lebih dapat dijadikan dasar pengambilan keputusan bagi shareholders.
REFERENCES
Sonya Erna Ginting Dan Syamsul Bahri Trb Fakultas ekonomi Universitas Sumatera Utara
Dalam penelitian ini menggunakan desain kausal untuk menganalisis hubungan antara suatu variabel dengan variabel lainnya ( Umar, 2001 63)Populasi pada penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur bidang yang terdaftar di bursa efek Indonesia. Dalam hal ini peneliti memilih perusahaan publik yang bergerak diindustri manufaktur dengan pertimbangan banyaknya sampel yang dapat diperoleh dan keandalan biaya(manfaat) biaya pajak tangguhan yang disajikan. Industri lain, misalnya perbankan, terlalu banyak dipengaruhi oleh regulasi pemerintah. Populasi dalam penelitian in berjumlah 151 perusahaan manufaktur (Indonesia Capital Market Directory, 2008).
Adapun kriteria pengambilan sampel yang digunakan adalah:
1. perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI dan mempublikasikan laporan keuangan auditan secara konsisten dan lengkap dari tahun 2005 sampai 2007. Namun tidak keluar (delisting) dari BEJ selama periode penelitian (2005– 2007)
2. Laporan keuangan menggunakan mata uang Indonesia dan periode berakhirnya laporan keuangan per 31 Desember.
3. Perusahaan tidak mengalami kerugian dalam laporan keuangan umum dan laporan keuangan pajak selama tahun pengamatan. Alasannya karena kerugian dapat dikompensasi kemasa depan menjadi pengurang biaya pajak tangguhan
4. Perusahaan manufaktur yang menyajikan laba perusahaan dilaporan keuangan tidak memiliki fluktuasi yang terlalu rendah dan terlalu tinggi.
Dalam penelitian variabel independen yakni perbedaan antara laba akuntansi dan laba fiskal (book-tax differences) sebagai proksi discretionary accrual merupakan selisih antara laba akuntansi dan laba fiskal Variabel book-tax differences merupakan variabel moderasi yang mewakili subsampel perusahaan dengan perbedaan besar positif, dan perbedaan besar negatif. Seluruh variabel penelitian PTBI t+1 dan PTBI t dibagi dengan aset total rata-rata.
4. Metode Analisis Data.
4.1 Uji Asumsi Klasik
Metode analisis data yang digunakan adalah metode analisis regresi sederhana dan regresi berganda dengan bantuan software SPSS or Windows. Penggunaan metode analisis dalam regresi dalam pengujian hipotesis terledih dahulu diuji apakah model tersebut telah memenuhi asumsi klasik atau tidak. Pengujian asumsi terdiri dari uji normalitas, uji multikolinearitas, uji autokorelasi, dan uji heterokedasitas.
a. Uji Normalitas.
Uji normalitas data bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Berdasarkan hasil uji statistik dengan model kolmogrov-smirnov. Diketahui nilai Asymp. Sig (2-tailed)untuk model 1 dan model 2 adalah 0.261 dan 0,183. Dan keduanya lebih besar dari 0,05.
b. Uji Multikolinieritas
Uji Multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antara antara variabel independen. Ada tidaknya multikolonieritas dapat dideteksi dengan melihat nilai tolerance dan variance inflation factor (VIF), Semua variabel independen memiliki nilai VIF<10 .Selain itu nilai toleransi untuk setiap variabel lebih besar dari 0,1(tolerance>0.1. Dengan demikian dapat pula disimpulakan tidak terjadi multikolinearitas dalam model regresi ini. Hasil perhitungan nilai tolerance menunjukkan variabel independen memiliki nilai tolerance lebih dari 0.10 yaitu 0.3830 yang berarti tidak terjadi korelasi antar variabel independen. Hasil perhitungan VIF juga menunjukkan hal yang sama dimana variabel independen memiliki nilai VIF kurang dari 10 untuk model 2 yaitu 2,608.
c. Uji Heteroskedastisitas
Uji ini memiliki tujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual suatu pengamatan ke pengamatan yang lain. Ada tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat grafik Scaterplot antar nilai prediksi variabel independen dengan nilai residualnya. Setelah diuji dengan grafik scatter plot dapat dilihat tidak ada pola yang jelas baik untuk model 1 maupun model 2. Serta titik menyebar diatas dan dibawah sumbu Y, maka dapat disimpulkan tidak terjadi heteokedastisitas pada model regresi ini.
d. Uji Autokorelasi
Uji ini bertujuan untuk melihat apakah dalam suatu model regresi linear ada korelasi antar kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1. Dari tabel Durbin Watson diperoleh nilan untuk model 1dan model 2 adalah sebesar 1,817 dan 1,742. Angka ini terletak diantara -2 dan +2.
4.2 Pengujian Hipotesis
Regresi linier sederhana dilakukan untuk mengestimasi persistensi laba akuntansi sebelum pajak. Regresi berganda merupakan pengembangan dari regresi sederhana dengan memasukkan koefisien laba yang membedakan tingkatan book tax diffrences. Analisis data dimulai dengan mengolah data dengan menggunakan Microsoft excel, selanjutnya dilakukan pengujian asumsi klasik dan pengujian menggunakan regresi linier sederhana dan berganda. Dari uji ANOVA atau F test, diperoleh F hitung sebesar 16,083 dengan tingkat signifikansi 0,000, sedangkan F tabel sebesar 2.320529 dengan signifikansi 0,05. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel independen berpengaruh secara simultan dan signifikan terhadap laba sebelum pajak yang akan datang. karena F hitung > F tabel (16,083 >2,320529) dan sig penelitian < 0,05 (0,000 < 0,05).
a. Persamaan Regresi
1) Persamaan regresi Model 1 (Regresi sederhana).
PTBI t+1 = 0.1130 + 0.547 PTBI t
Keterangan:
a) Konstanta sebesar 0.1130 menunjukkan bahwa apabila tidak ada variabel independen (PTBI) maka PTBI t+1 sebesar 0,1130.
b) PTBI t sebesar 0,547 menunjukkan bahwa setiap kenaikan PTBI t sebesar 1% akan diikuti oleh kenaikan PTBI t+1 sebesar 0,547 dengan asumsi variabel lain tetap.
2) Persamaan regresi Model 2 ( Regresi Berganda).
Berdasarkan tabel, didapatlah persamaan regresi sebagai berikut:
PTBI t+1= 0.007263 + 0.006878 LNBTD + 0.0280 LPBTD +0.701PTBI – 0.265 LNBTD*PTBI - 0.463 LPBTD*PTBI + ε
Keterangan :
a) konstanta sebesar 0.007263 menunjukkan bahwa apabila tidak ada variabel independen (LNBTD, LPBTD, PTBI, LNBTD*PTBI, dan LPBTD*PTBI= 0) maka PTBI t+1 sebesar 0.007263.
b) variabel LNBTD sebesar 0,006878 menunjukkan bahwa setiap kenaikan LNBTD sebesar 1% akan diikuti oleh kenaikan PTBI t+1 sebesar 0,006878 dengan asumsi variabel lain tetap.
c) variabel LPBTD sebesar 0,0280 menunjukkan bahwa setiap kenaikan 1% pada LPBTD akan diikuti oleh kenaikan PTBI t+1 sebesar 0,0280 dengan asumsi variabel lain tetap.
d) variabel LNBTD*PTBI sebesar -0,265 menunjukkan bahwa setiap kenaikan LNBTD sebesar 1% akan diikuti oleh penurunan PTBI t+1 sebesar 0,265 dengan asumsi variabel lain tetap.
e) variabel LPBTD*PTBI sebesar -0.463 menunjukkan bahwa setiap kenaikan 1% pada LPBTD akan diikuti oleh penurunan PTBI t+1 sebesar 0,463 dengan asumsi variabel lain tetap.
4.3 Pembahasan Hasil Penelitian
Nilai Adjusted R Square sebesar 0,461 Hal ini berarti bahwa 46,1 % variasi atau laba akuntansi sebelum pajak yang akan datang dapat dijelaskan oleh kelima variabel independennya, yaitu LNBTD, LPBTD, PTBI, LNPTBI*PTBI, dan LPBTD*PTBI., sedangkan sisanya sebesar 53.9 % dijelaskan oleh sebab-sebab lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian.Berdasarkan hasil pengujian diketahui bahwa secara parsial variabel LPBTD, PTBI t berpengaruh signifikan terhadap laba akuntansi sebelum pajak satu periode kedepan, sementara itu variabel LPBTD*PTBI berpengaruh negatif signifikan terhadap laba sebelum pajak satu periode kedepan. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan antara laba akuntansi dan laba fiskal yang diwakili oleh interaksi LPBTD*PTBI berpengaruh negatif terhadap persistensi laba. Persistensi laba ditunjukkan oleh pengaruh positif dari PTBI terhadap PTBI t+1 (laba sebelum pajak satu periode kedepan). Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Hanlon (2005) yang menemukan bahwa secara parsial PTBI dan LPBTD*PTBI t berpengaruh positif signifikan terhadap PTBI t+1 dan variabel LPBTD*PTBI mempunyai pengaruh negatif dan signifikan terhadap PTBI t+1. Dari hasil penelitian ini, variabel LNBTD dan variabel LPBTD tidak berpengaruh terhadap PTBI t+1.
5. Kesimpulan dan Saran
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, maka dapat diambil kesimpulan adalah secara parsial variabel PTBI, LPBTD berpengaruh positif signifikan terhadap PTBI t+1. Sementara itu variabel LPBTD*PTBI t berpengaruh secara negatif signifikan terhadap PTBI t+1. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan antara laba akuntansi dan laba fiskal berpengaruh secara negatif signifikan terhadap persistensi laba. Hasil penelitian ini sama dengan penelitian terdahulu Hanlon (2005) yang menghasilkan kesimpulan bahwa perbedaan antara laba akuntansi dan laba fiskal secara negatif berpengaruh signifikan terhadap persistensi laba.
Hasil penelitian ini tidak mendukung hasil penelitian terdahulunya yang dilakukan oleh Djamaluddin (2008) yang meneliti pada perusahaan perbankan yang menemukan bahwa secara parsial variabel LNBTD*PTBI t dan LPBTD*PTBI t tidak terbukti secara statistik mempunyai persistensi laba yang lebih rendah daripada perusahaan yang memiliki perbedaan kecil antara laba akuntansi dan laba fiskal. Hal ini mungkin disebabkan karena banyaknya regulasi khusus tentang pelaporan pajak perbankan menyebabkan perbedaan dalam pengakuan item-item perbedaan temporer. Secara simultan, dapat diambil kesimpulan semua variabel yang digunakan dalam variabel penelitian berpengaruh positif signifikan terhadap laba sebelum pajak satu periode kedepan. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Djamaluddin (2008) dan Hanlon (2005).
5.2 Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, antara lain:
a. penelitian ini hanya mengambil perusahaan manufaktur sebagai sampel dan pengambilan sampelnya tidak random sehingga tidak dapat dijadikan sebagai dasar generalisasi Hal ini dikarenakan penelitian ini hanya memfokuskan pada perusahan yang menghasilkan laba.
b. periode pengamatan dalam penelitian ini terbatas karena hanya mencakup tahun 2005-2007
5.3 Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti mencoba memberikan saran baik bagi pihak perusahaan, calon investor dan investor serta peneliti selanjutnya.
a. Bagi Perusahaan.
Untukmeningkatkan kepercayaan pemegang saham terhadap perusahaan, maka perusahaan harus mampu menunjukkan kinerja perusahaan dan menyampaikan informasi yang relevan dan reliabel kepada investor mengenai perkembangan perusahaan, tanpa harus dilakukannya manajemen laba. Karena indikasi manajemen laba dapat dilihat dari perbedaan antara laba akuntansi dan laba fiskal yang dilaporkan perusahaan dengan yang dilaporkan pajak.
b. Bagi Investor dan Calon Investor.
Untuk mengetahui kinerja perusahaan dari laba yang dihasilkan perusahaan serta item pendukung lainnya di dalam laporan keuangan, sebelum melakukan investasi sebaiknya para investor maupun calon investor mencari tahu mengenai profil perusahaan. Profil perusahaan dapat diperoleh melalui Bursa Efek Indonesia dan Instansi Pemerintah yaitu Bapepam sebagai pihak yang menentukan kebijakan di Bursa Efek Indonesia dalam menjamin keakuratan data informasi keuangan
c. Bagi Peneliti Selanjutnya.
Peneliti selanjutnya disarankan untuk mengambil sampel perusahaan baik yang mengalami keuntungan maupun kerugian dalam usahanya. Peneliti selanjutnya juga diharapkan untuk menambah tahun pengamatan sehingga hasil yang diperoleh lebih dapat dijadikan dasar pengambilan keputusan bagi shareholders.
REFERENCES
Sonya Erna Ginting Dan Syamsul Bahri Trb Fakultas ekonomi Universitas Sumatera Utara
Jurnal Internasional - tugas II
2. Tinjauan Data
2.1 Manajemen Laba.
Manajemen sebagai pihak yang paling bertanggungjawab atas kinerja perusahaan akan berupaya untuk menunjukkan kinerja yang baik. Kinerja suatu perusahaan dapat dilihat dari laba yang dihasilkan perusahaan melalui laporan keuangan. Dalam membuat laporan keuangan, terkadang manajemen memanfaatkan keleluasaan GAAP untuk memilih metode yang sesuai dengan perusahaan, sehingga sering timbul praktik manajemen laba dalam pelaksanaannya.
Definsi mengenai manajemen laba belum ada yang pasti. Banyak pendapat yang menyatakan pengertian manajemen laba berdasarkan sudut panadang masing-masing. Menurut Healey dan Walen dalam Kusuma (2006: 6) ditinjau dari sudut pandang badan penetapan standar menyatakan
Manajemen laba terjadi ketika manajemen menggunakan kebijakan dalam pelaporan keuangan dan dalam menyusun transaksi dan mengubah laporan keuangan serta menyesatkam stakeholder mengenai kinerja ekonomi perusahaan atau mempengaruhi contractual outcomes yang bergantung pada angka akuntansi yang dilaporkan.
2.2 Laba Akuntansi Dan Laba Fiskal
Menurut PSAK 46 paragraf ketujuh laba akuntansi adalah laba atau rugi bersih selama satu periode sebelum dikurangi beban pajak. Sementara itu penghasilan kena pajak atau laba fiskal (taxable profit) atau rugi pajak (tax loss) adalah laba atau rugi selama satu periode yang dihitung berdasarkan peraturan perpajakan dan menjadi dasar penghitungan pajak penghasilan.
2.3 Perbedaan Antara Laba Akuntansi Dan Laba Fiskal
Dalam peraturan perpajakan di Indonesia mengharuskan penghitungan laba fiskal berdasarkan metode akuntansi yang menjadi dasar penghitungan laba akuntansi. Sehingga dalam pembuatan laporan keuangan tidak perlu melakukan dua kali pembukuan berdasarkan kedua tujuan pelaporan tersebut. Perbedaan antara laba akuntansi dengan laba fiskal ditandai dengan adanya koreksi fiskal atas laba akuntansi. Hampir semua perhitungan laba akuntansi yang dihasilkan harus mengalami koreksi fiskal untuk mendapatkan penghasilan kena pajak karena tidak semua ketentuan dalam standar akuntansi keuangan digunakan dalam peraturan perpajakan dengan kata lain banyak dari ketentuan perpajakan yang tidak sama dengan Standar Akuntansi Keuangan (Djamaluddin, 2008: 56), perbedaan tersebut adalah sebagai berikut :
a. Perbedaan Tetap (Permanent Different)
Perbedaan tetap adalah merupakan suatu konsekuensi yang harus diterima bahwa hal tersebut harus dikeluarkan dari laporan laba rugi karena secara fiskal atau berdasarkan peraturan pajak tidak dapat dibebankan atau bukan merupakan penghasilan. Perbedaan tetap terjadi karena transaksi – transaksi pendapatan dan biaya diakui menurut akuntansi komersial dan tidak diakui menurut fiskal (Resmi, 2005: 333). Yang termasuk dalam perbedaan tetap ini adalah penghasilan bunga bank, dividen, dan penghasilan lain yang sifat pemungutan pajaknya final; dividen yang diterima oleh persroan terbatas, koperasi, yayasan, BUMN/ BUMD, bunga yang diterima oleh perusahaan reksadana, dan jenis penghasilan lain yang dikecualiakan dari objek pajak; pemberian imbalan dalam bentuk natura, sumbangan, biaya/ pengeluaran untuk kepentingan pribaidi pemilik dan untuk pengurang lain yang tidak diperbolehkan menurut fiskal (nondeductible expenses).
b. Perbedaan Sementara (Temporary Different)
Beda temporer merupakan perbedaan antara dasar pengenaan pajak (DPP) dari suatu aktiva atau kewajiban (Fiskal) dengan nilai tercatat aktiva dan kewajiban tersebut (Komersial), yang berakibat pada kenaikan atau bertambahnya laba fiskal periode mendatang atau berkurangnya laba fiskal periode mendatang, dimana pada saat nilai tercatat aktiva dipulihkan atau diselesaikan. Menurut Harnanto (2003: 113) perbedaan temporer yang mengakibatkan harus diakuinya aktiva dan atau kewajiban pajak tangguhan terjadi atau timbul apabila :
1) adanya penghasilan dan/atau beban yang harus diakui untuk penghitungan laba fiskal dan untuk penghitungan laba akuntansinya dalam periode berbeda,
2) bagian dari biaya perolehan dalam suatu penggabungan usaha, yang secara substansi merupakan suatu akuisisi, dialokasi kepada aktiva atau kewajiban tertentu berdasar nilai wajarnya dan penyesuaian atau perlakuan akuntansi demikian tidak diperkenankan oleh peraturan perpajakan,
3) goodwill atau goodwill negatif yang timbul dalam konsolidasi,
2.4 Penyebab Perbedaan Antara Laba Akuntansi Dan Laba Fiskal
Menurut Resmi (2005:331) penyebab perbedaan laporan keuangan komersial dan laporan keuangan fiskal adalah karena terdapat perbedaan pengakuan prinsip; perbedaan metode dan prosedur akuntansi; perbedaan pengakuan penghasilan dan biaya. Secara garis besar prinsip dasar akuntansi pajak penghasilan adalah sebagai berikut :
a. pajak penghasilan tahun berjalan yang kurang bayar atau terutang diakui sebagai Kewajiban Pajak Kini (Hutang Pajak) sedangkan yang lebih dibayar disebut Aktiva Pajak Kini (Piutang Pajak),
b. konsekuensi pajak mendatang yang dapat didistribusikan perbedaan temporer kena pajak diakui Kewajiban Pajak Tangguhan, sedangkan efek perbedaan temporer yang boleh dikurangkan dan sisa kerugian belum dikompensasikan diakui Aktiva Pajak Tangguhan,
c. pengukuran kewajiban dan aktiva pajak didasarkan peraturan pajak berlaku.
Perbedaan metode dan prosedur akuntansi menurut Resmi (2005: 331) adalah:
a. metode penilaian persediaan. Akuntansi komersial membolehkan memilih beberapa metode penghitungan harga perolehan persediaan. Sementara itu menurut perpajakan hanya memperbolehkan metode FIFO dan Average untuk penilaian persediaan.
b. metode penyusutan dan amortisasi. Akuntansi komersial memperbolehkan memilih metode penyusutan seperti metode garis lurus, jumlah angka tahun, saldo menurun, metode jumlah unit produksi dan lainnya. Sementara berdasarkan perpajakan hanya mengakui metode garis lurus dan saldo menurun untuk kelompok harta berwujud jenis non bangunan, sedangkan harta berwujud bangunan dibatasi hanya bisa menggunakan metode garis lurus
2.5 Persistensi Laba Akuntansi.
Persistensi laba akuntansi adalah revisi dalam laba akuntansi yang diharapkan di masa depan (expected future earnings) yang diimplikasi oleh laba akuntansi tahun berjalan (current earnings) (Pennman dalam Djamluddin, 2008: 57). Besarnya revisi ini menunjukkan tingkat persistensi laba. Inovasi terhadap laba sekarang adalah informatif terhadap laba masa depan ekspektasian, yaitu manfaat masa depan yang diperoleh pemegang saham.
Hanlon dalam Djamaluddin (2008) menyatakan bahwa masih terdapat beberapa pendapat yang mendukung dan menentang pernyataan mengenai apakah book-tax differences dapat mencerminkan informasi tentang persistensi laba. Pendapat yang mendukung berasal dari beberapa literatur analisis keuangan yang menyatakan bahwa naiknya laba yang dilaporkan oleh manajemen yang disebabkan oleh pilihan metoda akuntansi dalam proses akrual akan menyebabkan adanya perbedaan besar antara laba akuntansi dan laba fiskal. Djamaluddin (2008: 58) menyatakan bahwa kenaikan utang pajak tangguhan, yang mencerminkan laba akuntansi lebih besar daripada laba fiskal mengindikasikan kualitas laba semakin buruk. Sedangkan pendapat yang menentang bahwa book-tax differences dapat mencerminkan informasi tentang persistensi laba sekarang adalah adanya suatu penjelasan bahwa book-tax differences dapat dihasilkan melalui strategi tax-planning.
2.6 Kerangka konseptual.
Kerangka konseptual merupakan sintesis dari tinjauan teori dan tinjauan penelitain terdahulu. Variabel perbedaan antara laba akuntansi dan laba fiskal merupakan variabel moderasi yang dapat mempengaruhi hubungan variabel dependen dan variabel independen menjadi positif atau negatif. Variabel laba sebelum pajak saat ini sebagai variabel independen serta variabel laba sebelum pajak yang akan datang sebagai variabel dependennya. Perbedaan antara laba akuntansi dan laba fiskal sebagai variabel moderasi dapat mempengaruhi hubungan antara laba akuntansi sebelum pajak saat ini terhadap laba akuntansi sebelum pajak periode yang akan datang. Pengaruh yang diberikan dapat memperkuat atau memperlemah hubungan variabel independen terhadap variabel dependen.Persistensi laba merupakan suatu ukuran yang dapat menggambarkan kemampuan perusahaan dalam mempertahankan laba yang diperoleh sekarang dimasa depan.
2.7 Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah jawaban sementara yang harus diuji kebenarannya atas suatu penelitian yang dilakukan agar dapat mempermudah dalam menganalisis. Hipotesis penelitian ini adalah perbedaan antara laba akuntansi dan laba fiskal berpengaruh terhadap persistensi laba satu periode kedepan baik secara parsial amupun simultan.
2.1 Manajemen Laba.
Manajemen sebagai pihak yang paling bertanggungjawab atas kinerja perusahaan akan berupaya untuk menunjukkan kinerja yang baik. Kinerja suatu perusahaan dapat dilihat dari laba yang dihasilkan perusahaan melalui laporan keuangan. Dalam membuat laporan keuangan, terkadang manajemen memanfaatkan keleluasaan GAAP untuk memilih metode yang sesuai dengan perusahaan, sehingga sering timbul praktik manajemen laba dalam pelaksanaannya.
Definsi mengenai manajemen laba belum ada yang pasti. Banyak pendapat yang menyatakan pengertian manajemen laba berdasarkan sudut panadang masing-masing. Menurut Healey dan Walen dalam Kusuma (2006: 6) ditinjau dari sudut pandang badan penetapan standar menyatakan
Manajemen laba terjadi ketika manajemen menggunakan kebijakan dalam pelaporan keuangan dan dalam menyusun transaksi dan mengubah laporan keuangan serta menyesatkam stakeholder mengenai kinerja ekonomi perusahaan atau mempengaruhi contractual outcomes yang bergantung pada angka akuntansi yang dilaporkan.
2.2 Laba Akuntansi Dan Laba Fiskal
Menurut PSAK 46 paragraf ketujuh laba akuntansi adalah laba atau rugi bersih selama satu periode sebelum dikurangi beban pajak. Sementara itu penghasilan kena pajak atau laba fiskal (taxable profit) atau rugi pajak (tax loss) adalah laba atau rugi selama satu periode yang dihitung berdasarkan peraturan perpajakan dan menjadi dasar penghitungan pajak penghasilan.
2.3 Perbedaan Antara Laba Akuntansi Dan Laba Fiskal
Dalam peraturan perpajakan di Indonesia mengharuskan penghitungan laba fiskal berdasarkan metode akuntansi yang menjadi dasar penghitungan laba akuntansi. Sehingga dalam pembuatan laporan keuangan tidak perlu melakukan dua kali pembukuan berdasarkan kedua tujuan pelaporan tersebut. Perbedaan antara laba akuntansi dengan laba fiskal ditandai dengan adanya koreksi fiskal atas laba akuntansi. Hampir semua perhitungan laba akuntansi yang dihasilkan harus mengalami koreksi fiskal untuk mendapatkan penghasilan kena pajak karena tidak semua ketentuan dalam standar akuntansi keuangan digunakan dalam peraturan perpajakan dengan kata lain banyak dari ketentuan perpajakan yang tidak sama dengan Standar Akuntansi Keuangan (Djamaluddin, 2008: 56), perbedaan tersebut adalah sebagai berikut :
a. Perbedaan Tetap (Permanent Different)
Perbedaan tetap adalah merupakan suatu konsekuensi yang harus diterima bahwa hal tersebut harus dikeluarkan dari laporan laba rugi karena secara fiskal atau berdasarkan peraturan pajak tidak dapat dibebankan atau bukan merupakan penghasilan. Perbedaan tetap terjadi karena transaksi – transaksi pendapatan dan biaya diakui menurut akuntansi komersial dan tidak diakui menurut fiskal (Resmi, 2005: 333). Yang termasuk dalam perbedaan tetap ini adalah penghasilan bunga bank, dividen, dan penghasilan lain yang sifat pemungutan pajaknya final; dividen yang diterima oleh persroan terbatas, koperasi, yayasan, BUMN/ BUMD, bunga yang diterima oleh perusahaan reksadana, dan jenis penghasilan lain yang dikecualiakan dari objek pajak; pemberian imbalan dalam bentuk natura, sumbangan, biaya/ pengeluaran untuk kepentingan pribaidi pemilik dan untuk pengurang lain yang tidak diperbolehkan menurut fiskal (nondeductible expenses).
b. Perbedaan Sementara (Temporary Different)
Beda temporer merupakan perbedaan antara dasar pengenaan pajak (DPP) dari suatu aktiva atau kewajiban (Fiskal) dengan nilai tercatat aktiva dan kewajiban tersebut (Komersial), yang berakibat pada kenaikan atau bertambahnya laba fiskal periode mendatang atau berkurangnya laba fiskal periode mendatang, dimana pada saat nilai tercatat aktiva dipulihkan atau diselesaikan. Menurut Harnanto (2003: 113) perbedaan temporer yang mengakibatkan harus diakuinya aktiva dan atau kewajiban pajak tangguhan terjadi atau timbul apabila :
1) adanya penghasilan dan/atau beban yang harus diakui untuk penghitungan laba fiskal dan untuk penghitungan laba akuntansinya dalam periode berbeda,
2) bagian dari biaya perolehan dalam suatu penggabungan usaha, yang secara substansi merupakan suatu akuisisi, dialokasi kepada aktiva atau kewajiban tertentu berdasar nilai wajarnya dan penyesuaian atau perlakuan akuntansi demikian tidak diperkenankan oleh peraturan perpajakan,
3) goodwill atau goodwill negatif yang timbul dalam konsolidasi,
2.4 Penyebab Perbedaan Antara Laba Akuntansi Dan Laba Fiskal
Menurut Resmi (2005:331) penyebab perbedaan laporan keuangan komersial dan laporan keuangan fiskal adalah karena terdapat perbedaan pengakuan prinsip; perbedaan metode dan prosedur akuntansi; perbedaan pengakuan penghasilan dan biaya. Secara garis besar prinsip dasar akuntansi pajak penghasilan adalah sebagai berikut :
a. pajak penghasilan tahun berjalan yang kurang bayar atau terutang diakui sebagai Kewajiban Pajak Kini (Hutang Pajak) sedangkan yang lebih dibayar disebut Aktiva Pajak Kini (Piutang Pajak),
b. konsekuensi pajak mendatang yang dapat didistribusikan perbedaan temporer kena pajak diakui Kewajiban Pajak Tangguhan, sedangkan efek perbedaan temporer yang boleh dikurangkan dan sisa kerugian belum dikompensasikan diakui Aktiva Pajak Tangguhan,
c. pengukuran kewajiban dan aktiva pajak didasarkan peraturan pajak berlaku.
Perbedaan metode dan prosedur akuntansi menurut Resmi (2005: 331) adalah:
a. metode penilaian persediaan. Akuntansi komersial membolehkan memilih beberapa metode penghitungan harga perolehan persediaan. Sementara itu menurut perpajakan hanya memperbolehkan metode FIFO dan Average untuk penilaian persediaan.
b. metode penyusutan dan amortisasi. Akuntansi komersial memperbolehkan memilih metode penyusutan seperti metode garis lurus, jumlah angka tahun, saldo menurun, metode jumlah unit produksi dan lainnya. Sementara berdasarkan perpajakan hanya mengakui metode garis lurus dan saldo menurun untuk kelompok harta berwujud jenis non bangunan, sedangkan harta berwujud bangunan dibatasi hanya bisa menggunakan metode garis lurus
2.5 Persistensi Laba Akuntansi.
Persistensi laba akuntansi adalah revisi dalam laba akuntansi yang diharapkan di masa depan (expected future earnings) yang diimplikasi oleh laba akuntansi tahun berjalan (current earnings) (Pennman dalam Djamluddin, 2008: 57). Besarnya revisi ini menunjukkan tingkat persistensi laba. Inovasi terhadap laba sekarang adalah informatif terhadap laba masa depan ekspektasian, yaitu manfaat masa depan yang diperoleh pemegang saham.
Hanlon dalam Djamaluddin (2008) menyatakan bahwa masih terdapat beberapa pendapat yang mendukung dan menentang pernyataan mengenai apakah book-tax differences dapat mencerminkan informasi tentang persistensi laba. Pendapat yang mendukung berasal dari beberapa literatur analisis keuangan yang menyatakan bahwa naiknya laba yang dilaporkan oleh manajemen yang disebabkan oleh pilihan metoda akuntansi dalam proses akrual akan menyebabkan adanya perbedaan besar antara laba akuntansi dan laba fiskal. Djamaluddin (2008: 58) menyatakan bahwa kenaikan utang pajak tangguhan, yang mencerminkan laba akuntansi lebih besar daripada laba fiskal mengindikasikan kualitas laba semakin buruk. Sedangkan pendapat yang menentang bahwa book-tax differences dapat mencerminkan informasi tentang persistensi laba sekarang adalah adanya suatu penjelasan bahwa book-tax differences dapat dihasilkan melalui strategi tax-planning.
2.6 Kerangka konseptual.
Kerangka konseptual merupakan sintesis dari tinjauan teori dan tinjauan penelitain terdahulu. Variabel perbedaan antara laba akuntansi dan laba fiskal merupakan variabel moderasi yang dapat mempengaruhi hubungan variabel dependen dan variabel independen menjadi positif atau negatif. Variabel laba sebelum pajak saat ini sebagai variabel independen serta variabel laba sebelum pajak yang akan datang sebagai variabel dependennya. Perbedaan antara laba akuntansi dan laba fiskal sebagai variabel moderasi dapat mempengaruhi hubungan antara laba akuntansi sebelum pajak saat ini terhadap laba akuntansi sebelum pajak periode yang akan datang. Pengaruh yang diberikan dapat memperkuat atau memperlemah hubungan variabel independen terhadap variabel dependen.Persistensi laba merupakan suatu ukuran yang dapat menggambarkan kemampuan perusahaan dalam mempertahankan laba yang diperoleh sekarang dimasa depan.
2.7 Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah jawaban sementara yang harus diuji kebenarannya atas suatu penelitian yang dilakukan agar dapat mempermudah dalam menganalisis. Hipotesis penelitian ini adalah perbedaan antara laba akuntansi dan laba fiskal berpengaruh terhadap persistensi laba satu periode kedepan baik secara parsial amupun simultan.
Jurnal Internasional - tugas I
PENGARUH PERBEDAAN LABA AKUNTANSI DENGAN LABA FISKAL TERHADAP PERSISTENSI LABA PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA
1. Pendahuluan
Beberapa tahun belakangan ini dunia usaha sedang menghadapi krisis keuangan yang cukup hebat. Hal ini mengakibatkan banyak perusahaan besar yang gulung tikar alias bangkrut. Keadaan ini akhirnya memaksa perusahaan yang masih bertahan untuk dapat menjaga kelangsungan hidupnya dengan dapat bersaing dengan perusahaan lain. Untuk dapat melakukan aktivitasnya dan dapat bersaing dengan perusahaan lain maka membutuhkan dana atau modal baik yang diperoleh dari investor maupun kreditur. Dana tersebut tentunya akan diperoleh perusahaan jika mendapatkan kepercayaan dari kreditur maupun investor. Kepercayaan itu dapat diperoleh jika perusahaan mampu menunjukkan kinerja yang baik, yang dapat diukur dari laba yang diperoleh perusahaan.
Laba merupakan salah satu tujuan perusahaan selain untuk dapat bertahan hidup (going concern). Laba yang berkualitas adalah laba yang dapat mencerminkan kelanjutan laba dimasa depan (Djamaluddin, 2008: 55). Tujuan laporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan. Untuk memfasilitasi tujuan tersebut, Standar Akuntansi Keuangan (SAK) menetapkan suatu kriteria yang harus dimiliki informasi akuntansi agar dapat digunakan dalam pengambilan keputusan. Kriteria utama adalah relevan dan reliabel (Kusuma, 2006 : 5). Informasi akuntansi dikatakan relevan apabila dapat mempengaruhi keputusan dengan menguatkan atau mengubah pengharapan para pengambil keputusan, dan informasi tersebut dikatakan reliabel apabila dapat dipercaya dan menyebabkan pemakai informasi bergantung pada informasi tersebut.
Laba yang dilaporkan juga menjadi dasar dalam penetapan pajak. Sering kali terjadi perbedaan antara laba akuntansi dengan laba fiskal. Perbedaan ini disebabkan perbedaan tujuan masing-masing dalam pelaporan laba. Perbedaan antara laba akuntansi dan laba fiskal (book-tax differences) dapat memberikan informasi mengenai kualitas laba. Logika yang mendasarinya adalah adanya sedikit kebebasan akuntansi yang diperbolehkan dalam pengukuran laba fiskal. Menurut Djamaluddin (2008: 56) perbedaan antara laba akuntansi dan laba fiskal (book-tax differences) dapat memberikan informasi tentang management discretion akrual. Persistensi laba akuntansi adalah revisi dalam laba akuntansi yang diharapkan di masa depan (expected future earnings) yang diimplikasi oleh laba akuntansi tahun berjalan (Djamaluddin, 2008: 55). Besarnya revisi ini menunjukkan tingkat persistensi laba. Persistensi laba merupakan salah satu komponen nilai peridiktif laba, oleh karena persistensi laba merupakan unsur relevansi, maka beberapa informasi dalam book-tax differences yang dapat mempengaruhi persistensi laba, dapat membantu investor dalam menentukan kualitas laba dan nilai perusahaan. Namun masih banyak pendapat yang mendukung dan menentang pernyataan mengenai apakah book-tax differences dapat mencerminkan informasi tentang persistensi laba.
Perusahaan manufaktur adalah salah satu dari beberapa jenis perusahan yang terdaftar di bursa efek Indonesia. Peneliti memilih perusahaan manufaktur karena perusahaan manufaktur tidak dipengaruhi secara langsung oleh regulasi pemerintah, dimana salah satu komponen regulasi pemerintah adalah pajak, serta untuk memudahkan mengklasifikasikan item-item yang diungkapkan.
Berdasarkan uraian latar belakang penelitian yang telah dikemuka sebelumnya, maka yang menjadi rumusan masalah pada penelitian ini adalah apakah perbedaan antara laba akuntansi dan laba fiskal berpengaruh terhadap persistensi laba periode yang akan datang. Berdasarkan perumusan masalah yang ada, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perbedaan antara laba akuntansi dan laba fiskal terhadap persistensi laba periode yang akan datang baik secara simultan maupun parsial.
Kamis, 18 Maret 2010
TUGAS - 4 ( 2 - EB 10 )
P A R A G R A F
1.1. Latar Belakang
Dalam manulis sebuah karangan atau cerita tentunya selalu dijumpai susunan dari banyak kata yang membentuk kalimat. Kalimat-kalimat tersebut harus dihubungkan lagi sehingga terbentuk sebuah paragraf. Menyusun paragraf berarti menyampaikan suatu gagasan atau pendapat tertentu yang harus disertai alasan ataupun bukti tertentu.
Menyusun suatu paragraf yang baik harus memperhatikan beberapa aspek. Aspek-aspek tersebut antara lain adalah ide pokok yang akan dikemukakan harus jelas, semua kalimat yang mendukung paragraf itu secara bersama-sama mendukung satu ide, terdapat kekompakan hubungan antara satu kalimat dengan kalimat lain yang membentuk alinea, dan kalimat harus tersusun secara efektif (kalimat disusun dengan menggunakan kalimat efektif sesuai ide bisa disampaikan dengan tepat).
Oleh karena itu, untuk lebih memahami bagaimana menyusun sebuah paragraf yang benar dan mengetahui berbagai macam jenis paragraf, maka makalah ini disusun agar bisa menambah pengetahuan para pembaca tentang penggunaan paragraf yang baik.
2.1. Definisi paragraf
Paragraf atau alinea adalah bagian karangan yang terdiri atas beberapa kalimat yang berkaitan secara utuh dan padu serta membentuk satu kesatuan pikiran. Tiga syarat agar menciptakan paragraph yang padu adalah kepaduan, kesatuan, kelengkapan.
Dalam penggabungan beberapa kalimat menjadi sebuah paragraf itu diperlukan adanya kesatuan dan kepaduan. Yang dimaksud kesatuan adalah keseluruhan kalimat dalam paragraf itu membicarakan satu gagasan saja. Yang dimaksud kepaduan adalah keseluruhan kalimat dalam paragraf itu secara kompak atau saling berkaitan mendukung satu gagasan itu.
Di surat kabar sering kita temukan paragraf yang hanya terdiri atas satu kalimat saja. Paragraf semacam itu merupakan paragraf yang tidak dikembangkan. Dalam karangan yang bersifat ilmiah paragraf semacam itu jarang kita jumpai.
2.2. Syarat Paragraf
Paragraf yang efektif memenuhi dua syarat, yaitu adanya kesatuan makna (koherensi), adanya kesatuan bentuk (kohesi), dan hanya memiliki satu pikiran utama.
1. Kesatuan Makna (Koherensi)
Sebuah paragraf dikatakan mengandung kesatuan makna jika seluruh kalimat dalam paragraf itu hanya membicarakan satu ide pokok, satu topik, atau satu masalah saja. Jika dalam sebuah paragraf terdapat kalimat yang menyimpang dari masalah yang sedang dibicarakan, berarti dalam paragraf itu terdapat lebih dari satu ide atau masalah.
Perhatikan paragraf di bawah ini!
Sekitar 60 hektare tanaman padi di Desa Wates, Kecamatan Undaan, dan di Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, serta sekitar 100 hektare di Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, diserang hama keong mas. Agar serangan keong mas tidak meluas, Kepala Bidang Pertanian Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Kudus Budi Santoso dan Kepala Dinas Peternakan dan Pertanian Kabupaten Pati Pujo Winarno, Selasa (18/4), meminta agar petani melakukan antisipasi lebih dini. Pujo Winarno, (di depan) petani di Desa Baleadi, Kecamatan Sukolilo, menyatakan ada sejumlah peternak mau membeli keong mas untuk dijadikan pakan itik. (“Kilasan Daerah”, Kompas, 19 April 2006, h. 24)
Jika paragraf di atas kita cermati, nyatalah bahwa paragraf di atas membicarakan satu topik saja, yaitu serangan keong mas. Kalimat pertama membicarakan serangan keong mas pada tanaman padi di tiga kecamatan dalam dua daerah kabupaten di Jawa Tengah. Kalimat kedua membicarakan langkah pencegahan peluasan serangan hama keong mas. Kalimat ketiga membicarakan adanya peternak yang mau membeli keong mas.
2. Kesatuan Bentuk (Kohesi)
Kesatuan bentuk paragraf atau kohensi terwujud jika aliran kalimat berjalan mulus, lancar, dan logis. Koherensi itu dapat dibentuk dengan cara repetisi, penggunaan kata ganti, penggunaan kata sambung atau frasa penghubung antarkalimat.
Perhatikan sekali lagi paragraf di bawah ini!
Sampah yang setiap hari kita buang sebenarnya dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu sampah organik, dan sampah anorganik. Sampah organik adalah sampah yang mudah membusuk. Contohnya, sisa makanan dan daun-daunan yang umumnya basah. Sampah anorganik adalah adalah sampah yang sulit atau tidak dapat membusuk. Contohnya, plastik, kaca, kain, karet, dan lain-lainnya.
Pengulangan atau repetisi kata kunci sampah, sampah organik, dan sampah anorganik membuat kalimat-kalimat dalam paragraf itu jalin-menjalin menjadi satu kesatuan paragraf yang padu. Penggunaan kata ganti -nya yang mengacu kepada sampah organik dan sampah anorganik selain menjalin kepaduan juga membuat variasi penggunaan kata untuk menghindarkan kebosanan pembacanya (Bandingkan jika kata ganti -nya dikembalikan ke kata acuannya, yaitu sampah organik dan sampah anorganik).
Dalam penggunaan repetisi nama orang hendaknya dibuatkan variasinya dengan kata ganti, frasa, atau idiom yang merujuk ke pengertian yang sama untuk menghilangkan pembacanya.
Perhatikan contoh penggunaan repetisi yang variatif dalam paragraf berikut ini!
Salah satu presiden yang unik dan nyentrik di dunia ini adalah Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Beliau dapat terpilih menjadi presiden walaupun mempunyai penglihatan yang tidak sempurna, bahkan dapat dikatakan nyaris buta. Presiden ke-4 Republik Indonesia ini di awal masa jabatannya terlalu sering melakukan kunjungan ke luar negeri sehingga mengundang kritik pedas terutama dari lawan politiknya. Kiai dari Jawa Timur tersebut juga sering mengeluarkan pernyataan yang kontroversial dan inkonsisten. Akibatnya, dia sering diminta untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Namun, mantan ketua PBNU itu tetap pada prinsipnya dan tidak bergeming menghadapi semua itu.
(Lamuddin Finoza, Komposisi Bahasa Indonesia, (Jakarta: Insan Mulia), h. 154.)
Dalam paragraf di atas, Presiden Abdurrahman Wahid digantikan dengan Gus Dur; Presiden ke-4 Republik Indonesia; Kyai dari Jawa Timur; dia; mantan ketua PBNU. Selain penggunaan kata gantinya, dalam paragraf di atas digunakan kata sambung bahkan dan kata kata penghubung antarkalimat akibatnya dan namun.
3. Hanya Memiliki Satu Pikiran Utama
Paragraf yang baik harus hanya memiliki satu pikiran utama atau gagasan pokok. Jika dalam satu paragraf terdapat dua atau lebih pikiran utama, paragraf tersebut tidak efektif. Paragraf tersebut harus dipecah agar tetap memiliki hanya satu pikiran utama. Satu pikiran utama itu didukung oleh pikiran-pikran penjelas. Pikiran-pikiran penjelas ini lazimnya terwujud dalam bentuk kalimat-kalimat penjelas yang tentu harus selalu mengacu pada pikiran utama.
2.3. Jenis paragraf
Beberapa penulis seperti Sabarti Akhadiah dan kawan-kawan, Gorys Keraf, Soedjito, dan lain-lain membagi paragraf menjadi tiga jenis. Criteria yang mereka gunakan adalah sifat dan tujuan paragraf tersebut. Namun karena pebicaraan tentang letak kalimat utama juga memberikan nama tersendiri bagi setiap paragraf, penulis cenderung menjadikan topik letak kalimat utama sebagai salah satu penjenisan paragraf. Berdasarkan hal tersebut, jenis paragraf dibedakan sebagai berikut.
1. Jenis Paragraf Berdasarkan Sifat dan Tujuannya
Gorys Keraf (1980:63-66) memberikan penjelasan tentang jenis paragraf berdasarkan sifat dan tujuannya sebagai berikut.
a) Paragraf Pembuka
Tiap jenis karangan akan mempunyai paragraf yang membuka atau menghantar karangan itu, atau menghantar pokok pikiran dalam bagian karangan itu. Sebab itu sifat dari paragraf semacam itu harus menarik minat dan perhatin pembaca, serta sanggup menyiapkan pikiran pembaca kepada apa yag sedang diuraikan. Paragraf yang pendek jauh lebih baik, karena paragraf-paragraf yang panjang hanya akan meimbulkan kebosanan pembaca.
b) Paragraf Penghubung
Yang dimaksud dengan paragraf penghubung adalah semua paragraf yang terdapat di antara paragraf pembuka dan paragraf penutup.
Inti persoalan yang akan dikemukakan penulisan terdapat dalam paragraf-paragraf ini. Sebab itu dalam membentuk paragraf-paragraf prnghubung harus diperhatikan agar hubungan antara satu paragraf dengan paragraf yang lainnya itu teratur dan disusun secara logis.
Sifat paragraf-paragraf penghubung bergantung pola dari jenis karangannya. Dalam karangan-karangan yang bersifat deskriptif, naratif, eksposisis, paragraf-paragraf itu harus disusun berasarkan suatu perkembangan yang logis. Bila uraian itu mengandung perntagan pendapat, maka beberapa paragraf disiapkan sebagai dasar atau landasan untuk kemudian melangkah kepada paragraf-paragraf yang menekankan pendapat pengarang.
c) Paragraf Penutup
Paragraf penutup adalah paragraf yang dimaksudkan untuk mengakhiri karangan atau bagian karangan. Dengan kata lain paragraf ini mengandung kesimpulan pendapat dari apa yang telah diuraikan dalam paragraf-paragraf penghubung.
Apapun yang menjadi topik atau tema dari sebuah karangan haruslah teteap diperhatikan agar paragraf penutup tidak terlalu panjang, tetapi juga tidak berarti terlalu pendek. Hal yang paling esensial adalah bahwa paragraf itu harus merupakan suatu kesimpulan yang bulat atau betul-betul mengakhiri uraian itu serta dapat menimbulkan banyak kesan kepada pembacanya.
2. Jenis Paragraf Berdasarkan Letak Kalimat Utama
Letak kalimat utama juga turut menentukan jenis paragraf, dari dasar tersebut penulis menetapkan letak kalimat utama dalam paragraf sebagai salah satu criteria penjenisan paragraf. Penjenisan paragraf berdasarkan letak kalimat utama ini berpijak pada pendapat Sirai, dan kawan-kawan (1985:70-71) yang mengemukakan empat cara meletakkan kalimat utama dalam paragraf.
a) Paragraf Deduktif
Paragraf dimulai dengan mengemukakan persoalan pokok atau kalimat utama. Kemudian diikuti dengan kalimat-kalimat penjelas yang berfungsi menjelaskan kalimat utama. Paragraf ini biasanya dikembangkan dengan metode berpikir deduktif, dari yang umum ke yang khusus.
Dengan cara menempatkan gagasan pokok pada awal paragraf, ini akan memungkinkan gagasan pokok tersebut mendapatkan penekanan yang wajar. Paragraf semacam ini biasa disebut dengan paragraf deduktif, yaitu kalimat utama terletak di awal paragraf.
Contoh :
Pemakaian bahasa Indonesia di seluruh Indonesia dewasa ini belum dapat dikatakan seragam. Perbedaan dalam struktur kalimat, lagu kalimat, dan ucapan terlihat dengan mudah. Pemakiaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan sering dikalahkan oleh bahasa daerah. Di lingkungan persuratkabaran, radio, dan televisi sudah terjaga dengan baik. Para pemuka kitapun pada umumnya belum memperlihatkan penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Fakta-fakta di atas menunjukan bahwa pengajaran bahasa Indonesia perlu ditingkatkan.
Gagasan utama paragraf tersebut terdapat diawal paragraf (Deduktif), yaitu pemakaian bahasa Indonesia di seluruh Indonesia belum seragam.
b) Paragraf Induktif
Paragraf ini dimulai dengan mengemukakan penjelasan-penjelasan atau perincian-perincian, kemudian ditutup dengan kalimat utama. Paragraf ini dikembangkan dengan metode berpikir induktif, dari hal-hal yang khusus ke hal yang umum.
Contoh :
Lebaran masih seminggu lagi, tetapi harga sembako seperti beras, gula, minyak, tepung, telur, dan lain-lain telah naik secara signifikan. Makanan yang biasanya dikonsumsi dalam merayakan Lebaran seperti roti, sirup, dan lain-lain melonjak harganya. Bahan pakaian dan pakaian jadi untuk berlebaran, seperti busana muslimah, baju koko, kopiah, kerudung, sajadah, dan sejenisnya pun tidak ketinggalan dari kenaikan harga yang cukup tinggi. Kenaikan harga barang-barang selalu terjadi menjelang Lebaran pada setiap tahun.
Gagasan utama paragraf tersebut terdapat diakhir paragraf (Induktif), yaitu kenaikan harga barang-barang selalu terjadi menjelang Lebaran pada setiap tahun.
c) Paragraf Gabungan atau Campuran
Pada paragraf ini kalimat topik ditempatkan pada bagian awal dan akhir paragraf. Dalam hal ini kalimat terakhir berisi pengulangan dan penegasan kalimat pertama. Pengulangan ini dimaksudkan untuk lebih mempertegas ide pokok karena penulis merasa perlu untuk itu. Jadi pada dasarnya paragraf campuran ini tetap memiliki satu pikiran utama, bukan dua.
Contoh :
Buku merupakan sarana utama dalam mencari ilmu. Bagaimana orang bisa mengetahui ilmu dari berbagai belahan dunia. Dari buku pula kita bisa menambah pengetahuan maupun pengalaman. Jelaslah bahwa buku sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia.
Gagasan utama paragraf tersebut terdapat diawal paragraf, yaitu buku merupakan sarana utama dalam mencari ilmu. Sedangkan penegasan ide pokoknya terdapat dalam akhir kalimat, yaitu jelaslah bahwa buku sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia.
d) Paragraf Tanpa Kalimat Utama
Paragraf ini tidak mempunyai kalimat utama. Berarti pikiran utama tersebar di seluruh kalimat yang membangun paragraf tersebut. Bentuk ini biasa digunakan dalam karangan berbentuk narasi atau deskripsi. Contoh paragraf tanpa kalimat utama:
Contoh :
Enam puluh tahun yang lalu, pagi-pagi tanggal 30 Juni 1908, suatu benda cerah tidak dikenal melayang menyusur lengkungan langit sambil meninggalkan jejak kehitam-hitaman dengan disaksikan oleh paling sedikit seribu orang di pelbagai dusun Siberi Tengah. Jam menunjukkan pukul 7 waktu setempat. Penduduk desa Vanovara melihat benda itu menjadi bola api membentuk cendawan membubung tinggi ke angkasa, disusul ledakan dahsyat yang menggelegar bagaikan guntur dan terdengar sampai lebih dari 1000 km jauhnya. (Intisari, Feb.1996 dalam Keraf, 1980:74)
Sukar sekali untuk mencari sebuah kalimat topik dalam paragraf di atas, karena seluruh paragraf bersifat deskriptif atau naratif. Tidak ada kalimat yang lebih penting dari yang lain. Semuanya sama penting, dan bersama-sama membentuk kesatuan dari paragraf tersebut.
Paragraf tanpa kalimat utama disebut juga paragraf naratif atau paragraf deskriptif, yang merupakan salah satu jenis paragraf yang dibicarakan dalam penelitian ini.
3. Jenis Paragraf Berdasarkan Isi
a) Narasi
Narasi atau cerita adalah jenis karangan yang menceritakan suatu pokok persoalan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam narasi adalah:
· Biasanya cerita disampaikan secara kronologis.
· Mengandung plot atau rangkaian peristiwa.
· Ada tokoh yang menceritakan, baik manusia maupun bukan.
Contoh:
Tepat pukul 16.30 perhitungan suara pilkades di empat tempat pemungutan suara selesai. Berita acarapun segera dibuat dan di tanda tangani, Pak Camat mengumumkan hasilnya. Teten yang bertanda gambar padi mendapat 782 suara, Sugiono dengan tanda gambar ketela 324 suara, Paidi bertanda gambar jagung 316 suara. Suara tidak sah ada 33 lembar.
b) Diskripsi
Diskripsi adalah jenis karangan yang dibuat untuk menyampaikan gambaran secara objektif suatu keadaan sehingga pembaca memiliki pemahaman yang samadengan informasi yang disampaikan.
Ciri-ciri diskripsi adalah :
· Bersifat informatif
· Pembaca diajak menikmati sesuatu yang ditulis
· Susunan peristiwa tidak dianggap penting
Contoh :
Pagi hari itu duduk di bangku yang panjang dalam taman belakang rumah. Matahari belum tinggi, baru sepenggalah. Sinar matahari pagi menghangatkan badan. Di depanku bermekaran bunga beraneka warna. Angin pegunungan membelai wajah, membawa bau harum bunga. Kuhirup hawa pagi yang segar sepuas-puasku. Nyaman rasa badan dan hilanglah lelah berjalan untuk sehari kemarin.
c) Eksposisi
Eksposisi adalah karangan yang dibuat untuk menerangkan suatu pokok persoalan yang dapat meperluas wawasan pembaca. Untuk mempertegas masalah yang disampaikan biasanya dilengkapi dengan gambar, data, dan statistik.
Contoh :
Pertumbuhan ekonomi Indonesia selama beberapa tahun terakhir ini mencapai rata-rata 7-8% pertahun. Dengan demikian, pendapatan perkapita penduduk Indonesia mencapai beberapa kali lipat. Selain itu berdasarkan data Biro Pusat Statistik, jumlah penduduk yang dikategorikan miskin juga banyak berkurang.
d) Argumentasi
Argumentasi adalah jenis karangan yang berisi gagasan lengkap dengan bukti dan alasan serta dijalin dengan proses penalaran yang kritis dan logis. Argumentasi dibuat untuk mempengaruhi atau meyakinkan pembaca untuk menyatakan persetujuannya.
Contoh :
Keluaga berencana berusaha menjamin kebahagiaan hidup keluarga. Ibu tidak selalu merana oleh karena setiap tahun melahirkan. Ayah tidak pula terlalu pusing memikirkan usaha untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Anakpun tidak terlantar hidupnya karena kebutuhan hidup yang terjamin.
e) Persuasi
Persuasi adalah jenis karangan yang disampaikan dengan menggunakan bahasa yang singkat, padat, dan menarik untuk mempengaruhi pembaca sehingga pembaca terhanyut oleh siratan isinya.
Contoh :
Menabung uang di bank lebih aman dan menguntungkan. Uang kita akan mendapat keuntungan dari bank sesuai dengan uang tabungan yang telah disetor. Uang kita juga akan terjaga keamanannya dari pencurian. Oleh karena itu marilah kita menabung uang di bank sebagai jaminan masa depan kelak.
(susandi wordpress.com)
Langganan:
Postingan (Atom)